Rentetan Bencana Terjadi di Jabar, Sekda Herman Ingatkan Ada Ancaman Senyap Bernama Sesar Lembang

Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat kembali menguji kesiapsiagaan pemerintah daerah. Mulai dari banjir di Sukabumi hingga longsor di Arjasari, Kabupaten Bandung, yang menelan tiga korban tertimbun dan ratusan warga terdampak, rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa Jabar memasuki musim risiko tinggi.

Rentetan Bencana Terjadi di Jabar, Sekda Herman Ingatkan Ada Ancaman Senyap Bernama Sesar Lembang
Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Barat kembali menguji kesiapsiagaan pemerintah daerah. Mulai dari banjir di Sukabumi hingga longsor di Arjasari, Kabupaten Bandung, yang menelan tiga korban tertimbun dan ratusan warga terdampak, rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa Jabar memasuki musim risiko tinggi.

INILAHKORAN.ID – Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di jawa barat kembali menguji kesiapsiagaan pemerintah daerah. Mulai dari banjir di Sukabumi hingga longsor di Arjasari, Kabupaten Bandung, yang menelan tiga korban tertimbun dan ratusan warga terdampak, rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa Jabar memasuki musim risiko tinggi.

Namun di tengah fokus penanganan bencana hidrometeorologi, Pemerintah Provinsi jawa barat mengingatkan adanya ancaman yang jauh lebih sunyi, tetapi berpotensi menimbulkan kerusakan besar, yakni aktivitas sesar lembang.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi jawa barat, Herman Suryatman menegaskan, potensi gempa dari sesar lembang perlu menjadi perhatian serius.

“Teman-teman, jangan lupa kita punya potensi bencana gempa bumi sesar lembang. sesar lembang ini ada berapa puluh kilometer begitu terbentang dari Bandung Barat sampai Kabupaten Bandung,” ujar Herman, Senin 8 Desember 2025.

Menurut Herman, ancaman gempa dari sesar tersebut tidak hanya membayangi Bandung Raya. Data Pemprov menunjukkan potensi kerusakan dapat merambat hingga tujuh kabupaten/kota.

“Dampaknya di tujuh kabupaten kota yakni Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Subang. Itu yang akan terkena dampak,” ungkapnya.

Ia menyebut, pergerakan sesar ini bukan sekadar kemungkinan. Fakta lapangan menunjukkan aktivitasnya terjadi setiap tahun. “Tentu kita tidak berharap sesar lembang tidak bergerak. Tapi faktanya setiap tahun, empat milimeter bergerak setiap tahunnya,” ucap Herman.

Herman menegaskan bahwa skenario terburuk gempa akibat aktivitas sesar lembang harus disiapkan sejak dini. Potensinya tidak main-main.

“Tentu kami harus antisipasi terjadi bencana gempa bumi akibat sesar lembang itu. Dan gempanya bisa menembus enam sampai tujuh magnitudo. Itu sangat kencang sekali, sangat besar. Karena itu yang harus kita lakukan adalah mitigasi bencana,” jelasnya.

Mitigasi bukan hanya menjadi tugas pemerintah daerah. Ia menekankan masyarakat juga harus memahami langkah penyelamatan ketika gempa terjadi.

“Apabila ada bencana gempa, baik karena sesar lembang ataupun yang lain, harus dilakukan adalah Gempa (Gerakan Merunduk Lindungi Kepala). Jadi bukan lari, yang pertama adalah gerakan merunduk lindungi kepala. Baru lihat sikon baru lari menyelamatkan diri,” kata Herman.***


Editor : JakaPermana