Ribuan SMA/SMK Segera Terima Bantuan Smartboard, Disdik Jabar Ingatkan Kesiapan Guru

Program Smartboard atau Interactive Flat Panel (IFP) yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto resmi dieksekusi pada Senin 17 November 2025 lalu.

Ribuan SMA/SMK Segera Terima Bantuan Smartboard, Disdik Jabar Ingatkan Kesiapan Guru
Program Smartboard atau Interactive Flat Panel (IFP) yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto resmi dieksekusi pada Senin 17 November 2025 lalu.

INILAHKORAN, Bandung - Program Smartboard atau Interactive Flat Panel (IFP) yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto resmi dieksekusi pada Senin 17 November 2025 lalu.

Jawa Barat tercatat sebagai salah satu penerima terbesar, dengan alokasi sekitar 4.500 unit untuk SMA dan SMK. Namun, di balik antusiasme pemerintah daerah, sejumlah catatan kritis muncul terkait kesiapan implementasi dan distribusi yang belum sepenuhnya terverifikasi.

“Kalau data yang kita terima ada sekitar 4.500-an ya. Smartboard yang diterima oleh sekolah-sekolah Jawa Barat. Dan ya kita tentu berbahagia karena di tengah keterbatasan anggaran kita kita dapat bantuan lah ya,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Jabar Purwanto, Senin 24 November 2025.

Purwanto menuturkan, penyaluran IFP dilakukan langsung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kepada sekolah penerima. Namun, ia menegaskan bahwa teknologi tersebut bukan jaminan peningkatan mutu jika tidak diiringi kesiapan tenaga pendidik.

“Langsung ke sekolah, diterima oleh sekolah, dan dimanfaatkan oleh sekolah dalam upaya digitalisasi pembelajaran. Tentu ini akan memperkaya model pembelajaran di sekolah-sekolah gitu,” jelasnya.

Menurutnya, Smartboard hanya alat bantu, bukan pengganti metode pembelajaran konvensional. Ia mengingatkan agar penggunaan teknologi tidak justru memutus interaksi dan aktivitas belajar nyata.

“Walaupun memang pembelajaran itu bukan satu-satunya lewat smart board itu ya. Kita tentu yang bisa lewat smart board ya smart board bisa memanfaatkan itu kalau keterbatasan sumber-sumber belajar,” ujarnya.

Purwanto menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembelajaran digital dan observasi lapangan.

“Tapi kita juga tidak boleh melupakan hal-hal yang ada di sekitar sekolah yang bisa diamati secara langsung, diikuti secara langsung atau bisa menjadi sebuah rangkaian pembelajaran,” tuturnya.

Ia menyebut perangkat ini dapat membuka ruang kreativitas baru apabila digunakan untuk mengolah hasil studi lapangan menjadi presentasi digital.

“Anak-anak bisa lebih kreatif memadukan, menyambungkan antara mereka yang temukan di lapangan ketika studi lapangan ke secara praktik kemudian mereka bisa digitalisasikan ke dalam bentuk visual,” katanya.

Meski sudah diumumkan masif, pendataan penyebaran Smartboard di seluruh SMA, SMK dan SLB Jabar masih berlangsung.

“Nah, itu data persebarannya kita belum cek ya. Tapi jumlah totalnya kurang lebih 4.500,” ucapnya.

Di tingkat nasional, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti sebelumnya menyatakan pemerintah telah menyiapkan anggaran besar untuk mendukung digitalisasi sekolah.

bantuan untuk Sekolah atau Kelas Cerdas sudah disiapkan. Alokasi anggarannya Rp2 triliun, dan Insya Allah tahun ini akan mulai direalisasikan untuk 15 ribu satuan pendidikan,” terangnya.***


Editor : JakaPermana