10 Tahun Mengayuh, Entur Kini Bisa Narik Becak Listrik Tanpa Kayuh

Setelah 10 tahun mengayuh becak, Entur Turjana, warga Tasikmalaya, kini mendapat bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto.

10 Tahun Mengayuh, Entur Kini Bisa Narik Becak Listrik Tanpa Kayuh
Entur Turjana (64), penerima manfaat bantuan becak listrik dari presiden Prabowo Subianto, saat mencoba mengoperasikan becak barunya. N Nurohman

INILAHKORAN.ID - Setelah sekitar 10 tahun mengandalkan kekuatan kaki untuk mengayuh becak, Entur Turjana (64) akhirnya memiliki kendaraan yang membuat pekerjaannya sedikit lebih ringan.

Warga Kampung Kalangsari, Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, itu kini bisa menarik penumpang menggunakan becak listrik bantuan Presiden RI Prabowo Subianto.

Bagi Entur, becak listrik tersebut bukan sekadar kendaraan baru. Di usia yang tak lagi muda, kendaraan itu menjadi harapan agar dirinya tetap bisa bekerja tanpa harus menguras tenaga seperti sebelumnya.

"Empuk, enak dipakai. Dibanding becak yang dulu, yang ini lebih empuk," kata Entur, Selasa (8/9/2026).

Selama satu dekade, Entur terbiasa mengayuh becak hampir setiap hari untuk mencari nafkah. Ia biasanya mulai bekerja sejak pukul 05.30 WIB hingga sekitar pukul 20.00 WIB.

Simpang Lima hingga Jalan Muhammad Hatta menjadi kawasan yang biasa didatangi Entur untuk mencari penumpang.

Namun, penghasilannya belakangan tidak menentu. Dalam sehari, ia terkadang hanya membawa pulang Rp30 ribu, bahkan Rp25 ribu. Tidak jarang pula ia pulang tanpa mendapatkan penghasilan.

"Sekarang lagi sepi. Paling dapat Rp30 ribu, kadang Rp25 ribu, kadang enggak dapat sama sekali," tuturnya.

Karena itu, Entur mengaku sangat senang ketika mengetahui dirinya menjadi salah satu penerima bantuan becak listrik.

Prosesnya bermula dari pendataan. Setelah didata, ia menunggu sekitar satu bulan hingga becak listrik tersebut akhirnya diterima.

"Dapat becak awalnya ada yang mendata. Dari pendataan sampai dapat satu bulanan lah," ujarnya.

Sebelum menggunakannya untuk mencari penumpang, Entur terlebih dahulu mendapat pengarahan mengenai cara mengoperasikan becak listrik tersebut.

Meski masih belajar, ia perlahan mulai memahami cara mengendarainya.

"Kemarin diajarin dulu cara pakainya. Agak bisa sedikit, belum lancar," katanya.

Bagi Entur, kehadiran becak listrik membuat aktivitas menarik penumpang terasa lebih ringan. Ia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tenaga untuk mengayuh, meski kendaraan tersebut tetap bisa digunakan secara manual ketika diperlukan.

"Yang ini mah enak, enggak digowes. Tapi ini bisa digowes juga," ucapnya.

Sementara becak lama yang selama bertahun-tahun menjadi teman mencari nafkah tidak akan dijual. Entur memilih menyimpannya sebagai kenang-kenangan.

"becak lamanya dibiarkan saja, kenang-kenangan," katanya.

Kini, Entur berharap becak listrik tersebut tidak hanya mengurangi rasa lelah, tetapi juga membuka peluang mendapatkan lebih banyak penumpang.

Dengan kendaraan tersebut, ia berharap dapat menjangkau wilayah yang lebih jauh tanpa harus terlalu khawatir kelelahan setelah seharian mengayuh.

"Dengan adanya bantuan ini mudah-mudahan bisa meningkat. Jaraknya bisa lebih jauh. Biasa narik becak di Simpang Lima, Jalan Muhammad Hatta. Biasanya capek ngebecak digowes," ujar Entur.

Sepuluh tahun mengayuh membuat Entur paham betul bagaimana beratnya mencari nafkah dengan tenaga sendiri. Kini, sebuah becak listrik memberinya kesempatan untuk tetap bekerja dengan cara yang lebih ringan.

becak listrik itu menjadi harapan baru bagi Entur untuk terus mencari penghasilan dan mempertahankan kemandiriannya di usia 64 tahun.


Editor : Ahmad Sayuti