Berduaan dengan Bukan Mahram Saat Ramadhan, Buya Cecep: Pahala Puasa Rusak!
Simak hukum berduaan dengan bukan mahram saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan menurut penjelasan Buya Cecep.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung- Simak hukum berduaan dengan yang bukan mahram saat bulan suci Ramadhan menurut Akademisi Universitas Muhammadiyah Bandung, Cecep Taufikurrohman atau Buya Cecep.
Menurut Buya Cecep, berduaan dengan yang bukan mahram atau pasangan halal di bulan Ramadhan bisa merusak pahala puasa.
Buya Cecep menjelaskan puasa Ramadhan dan ibadah-ibadah lainnya memiliki dua dimensi. Pertama dimensi fiqih dan yang kedua dimensi ahlaq/etika.
Baca Juga: Bogor Timur Kembangkan Indoor Vertical Farming, Hasil Tani 10 Kali Lebih Higienis
"Dimensi fiqih puasa adalah menahan lapar dan menahan haus. Sedangkan dimensi fiqih shalat antara lain, sujud, rukuk, duduk dan seterusnya. Untuk itu, secara dimensi fiqih, ibadah shaum Ramadhan itu batal oleh makan dan minum dengan sengaja atau berhubungan suami isteri di siang hari," kata Buya Cecep, sapaan akrabnya, Rabu 23 Maret 2022.
Lulusan Al-Azhar Mesir, itu menambahkan adapun secara akhlaqi, hal-hal yang membatalkan puasa adalah ketika sesorang (kita) tidak mampu menjadikan ibadah puasa sebagai benteng dari semua hal yang diharamkan oleh Allah SWT.
"Misalnya mau ngomongin orang lain, kemudian menggosip orang lain, membuat hoax, memfitnah orang lain dan segala macam, itu adalah hal-hal yang tidak boleh dalam agama dan secara akhlaqi, ia mebatalkan nilai puasa kita," ucapnya.
Dimensi Ahlaqi dalam ibadah adalah segala sesuatu yang terkait dengan kualitasnya. Sedangkan dimensi fiqih itu adalah kuantitas ibadah. Setiap ibadah tidak akan diterima, jika tidak memenuhi dua dimensi ini.
Untuk itu, lanjut dia, berduaan dengan bukan muhrim saat ngabuburit, merontokon dimensi akhlak yang mengakibatkan semua pahala kebaikan ibadah shaum Ramadhan menguap.
"Secara fiqih puasanya tetap sah, tapi secara kualitas, puasanya itu kosong. jadi, ibarat kita punya galon, galonnya bagus, tapi tidak ada airnya, buat apa," imbuhnya.
Baca Juga: Ajak Babysitter Gala Sky Umrah, Fuji: Ini Keinginan Kak Vanes Semasa Hidupnya
Dalam ibadah, kuantitas itu adalah wadahnya dan itu adalah perspektif fiqih. Adapun sisi kualitasnnya adalah perspektif adab dan akhlaq.
"Maka dalam sebuah hadis rasullah allahi salam mengingatkan kita, banyak sekali orang yang berpuasa tapi dia tidak mendapatkan apapun dari puasa itu, kecuali rasa haus dan lapar. Haus dan lapar itu adalah merupakan dimensi ibadah secara kuantitatif tadi, dia tidak makan dan tidak minum, tapi isinya tidak berkualitas, isinya kosong alias tidak berkualitas," paparnya. *** (Okky Adiana)
Editor : inilahkoran


