Ruas Jalan Rancapanggung‑Cikadu Rusak Parah Sepanjang 2 KM
Jalan penghubung antara Kecamatan Cikadu dengan Racapanggung KBB rusak parah dan aktivitas warga pun terganggu
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Kondisi jalan penghubung antara Kecamatan Cililin dan Sindangkerta kian memprihatinkan dan menuai kekhawatiran luas masyarakat.
Pasalnya, ruas jalan Rancapanggung‑Cikadu yang merupakan urat nadi pergerakan warga di dua wilayah kecamatan itu kini berubah menjadi jalur berbahaya, dipenuhi lubang menganga serta permukaan aspal yang hancur lebur sepanjang lebih dari dua kilometer.
Kerusakan parah ini tersebar di wilayah RW 09 Rancapanghilir, RW 08 Cipelem, hingga RW 10 Bonceret yang menjadi perbatasan langsung dengan Desa Cikadu.
Kepala Desa Rancapanggung, Asep Sukma Jaya menyebutkan, kerusakan ini bukan masalah baru, melainkan keluhan lama yang sudah berlangsung bertahun‑tahun namun belum pernah mendapatkan penanganan tuntas dan menyeluruh.
"Berbagai upaya permintaan perbaikan sudah ditempuh, mulai dari pengajuan rutin dalam forum perencanaan pembangunan hingga penyampaian langsung kepada pimpinan daerah," kata Asep, Selasa (12/5/2026).
Bahkan belum lama ini, persoalan ini kembali diangkat secara langsung kepada Wakil Bupati Bandung Barat guna memperoleh perhatian prioritas.
“Sudah berulang kali kami usulkan, sudah kami sampaikan sampai ke tingkat pimpinan daerah, namun hingga saat ini kondisi masih sama bahkan makin parah," ujarnya.
"Kami tetap berharap usulan ini segera dikabulkan mengingat peran jalur ini sangat vital bagi ribuan warga,” ungkapnya.
Asep tak memungkiri keterbatasan anggaran dan kebijakan efisiensi belanja yang sedang diterapkan menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi pemerintah kabupaten.
Kendati begitu, dirinya mengakui risiko yang ditimbulkan tidak lagi dapat dianggap ringan, mengingat jalan ini menjadi akses satu‑satunya untuk bekerja, bersekolah hingga kebutuhan pelayanan dasar.
"Titik paling kritis sekaligus paling berbahaya terletak di kawasan tanjakan Kampung Bonceret," ujarnya.
Di lokasi ini, jelas Asep, lapisan kerasnya nyaris tidak tersisa, sehingga permukaannya tidak rata, licin dan sangat sulit dilalui kendaraan bermotor maupun roda empat.
Ancaman kian berbahaya saat musim hujan tiba. Seperti diungkapkan Engkos, salah satu warga yang setiap hari melintasi jalur tersebut, genangan air yang menggenang di setiap cekungan besar menutup pandangan sehingga lubang‑lubang dalam tidak terlihat sama sekali.
Menurutnya, banyak pengendara tidak sengaja menerjangnya, menyebabkan kendaraan oleng, terbalik hingga menimbulkan cedera fisik. Peristiwa serupa sudah menjadi pemandangan yang kerap terjadi hampir setiap minggu.
“Saat kering saja sudah susah hati‑hati, apalagi kalau habis hujan. Air menutup semuanya, kita tidak tahu di mana jalan yang aman, akhirnya sering jatuh berjatuhan," kata Engkos.
"Ini sudah berlangsung lama, kami makin khawatir kalau nanti ada korban jiwa baru ditangani,” ucapnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti

