Runtuhnya Tembok Kutukan Puluhan Tahun

Runtuhnya Tembok Kutukan Puluhan Tahun
Net

Oleh: Bsafaat

AIR muka Ivan Jovanovic tidak bisa menyembunyikan rasa haru dan bangga yang membuncah setelah peluit panjang berbunyi di Stadion WWK Arena, Senin (28/9) dini hari WIB.

 Air mata bahagia dan sorak-sorai membahana di ruang ganti, merayakan sebuah kemustahilan yang akhirnya menjadi nyata: menumbangkan raksasa dunia, Jerman, di rumah mereka sendiri.

Bagi Yunani, ini bukan sekadar tambahan tiga poin di papan klasemen Grup B Liga 1 UEFA Nations League. Ini adalah runtuhnya sebuah tembok kutukan.

Berpuluh-puluh tahun bertanding, Yunani selalu keluar lapangan dengan kepala tertunduk setiap kali berhadapan dengan Jerman.

Namun malam itu, takdir berkata lain berkat sundulan meluncur dari Dimitrios Kourbelis di menit ke-74 yang membungkam seisi stadion.

"Ini adalah kemenangan yang sangat penting melawan lawan tangguh, sekaligus kemenangan bersejarah bagi tim nasional Yunani di sini, di Jerman," ungkap Jovanovic.

Sepanjang 90 menit, anak-anak asuh Jovanovic sebenarnya terus digempur. Jerman yang kini diarsiteki Jurgen Klopp tampil dominan dan mengurung pertahanan Yunani dengan kualitas bintang lima mereka. Jovanovic pun mengakui bahwa timnya sempat tertekan.

Namun, alih-alih gentar, para pemain Yunani justru menunjukkan mental baja dan hati yang besar. Mereka bertarung berebut bola seolah hidup mereka dipertaruhkan di sana.

"Saat kami berhasil mengambil inisiatif lebih besar dibandingkan babak pertama—kami jauh lebih berbahaya, dan pada akhirnya kami berhasil meraih kemenangan," lanjut pelatih asal Serbia tersebut, memuji keberanian skuatnya yang tampil penuh percaya diri di babak kedua.

Kemenangan tipis 1-0 ini menyempurnakan dongeng awal musim Yunani. Setelah sebelumnya berhasil menjinakkan Serbia 2-1, menyapu bersih dua laga pembuka dengan kemenangan terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi perkembangan tim.

"Meraih dua kemenangan dalam dua pertandingan pertama merupakan hal yang sangat penting... Kami sangat senang dengan pencapaian ini," jelas Jovanovic, tersenyum lebar.

Kini, dengan kepala tegak dan modal enam poin di puncak klasemen, Yunani bersiap pulang ke rumah. Ujian berat berikutnya sudah menanti di Stadion Toumba, Tesalonika, di mana mereka akan menjamu Belanda.

Namun bagi masyarakat Yunani, malam di Augsburg akan selalu dikenang sebagai momen di mana para pahlawan mereka membuktikan bahwa di atas lapangan hijau, tidak ada yang tidak mungkin. (bsf) 

 Air mata bahagia dan sorak-sorai membahana di ruang ganti, merayakan sebuah kemustahilan yang akhirnya menjadi nyata: menumbangkan raksasa dunia, Jerman, di rumah mereka sendiri.

Bagi Yunani, ini bukan sekadar tambahan tiga poin di papan klasemen Grup B Liga 1 UEFA Nations League. Ini adalah runtuhnya sebuah tembok kutukan.

Berpuluh-puluh tahun bertanding, Yunani selalu keluar lapangan dengan kepala tertunduk setiap kali berhadapan dengan Jerman.

Namun malam itu, takdir berkata lain berkat sundulan meluncur dari Dimitrios Kourbelis di menit ke-74 yang membungkam seisi stadion.

"Ini adalah kemenangan yang sangat penting melawan lawan tangguh, sekaligus kemenangan bersejarah bagi tim nasional Yunani di sini, di Jerman," ungkap Jovanovic.

Sepanjang 90 menit, anak-anak asuh Jovanovic sebenarnya terus digempur. Jerman yang kini diarsiteki Jurgen Klopp tampil dominan dan mengurung pertahanan Yunani dengan kualitas bintang lima mereka. Jovanovic pun mengakui bahwa timnya sempat tertekan.

Namun, alih-alih gentar, para pemain Yunani justru menunjukkan mental baja dan hati yang besar. Mereka bertarung berebut bola seolah hidup mereka dipertaruhkan di sana.

"Saat kami berhasil mengambil inisiatif lebih besar dibandingkan babak pertama—kami jauh lebih berbahaya, dan pada akhirnya kami berhasil meraih kemenangan," lanjut pelatih asal Serbia tersebut, memuji keberanian skuatnya yang tampil penuh percaya diri di babak kedua.

Kemenangan tipis 1-0 ini menyempurnakan dongeng awal musim Yunani. Setelah sebelumnya berhasil menjinakkan Serbia 2-1, menyapu bersih dua laga pembuka dengan kemenangan terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi perkembangan tim.

"Meraih dua kemenangan dalam dua pertandingan pertama merupakan hal yang sangat penting... Kami sangat senang dengan pencapaian ini," jelas Jovanovic, tersenyum lebar.

Kini, dengan kepala tegak dan modal enam poin di puncak klasemen, Yunani bersiap pulang ke rumah. Ujian berat berikutnya sudah menanti di Stadion Toumba, Tesalonika, di mana mereka akan menjamu Belanda.

Namun bagi masyarakat Yunani, malam di Augsburg akan selalu dikenang sebagai momen di mana para pahlawan mereka membuktikan bahwa di atas lapangan hijau, tidak ada yang tidak mungkin. (bsf)


Editor : Inilahkoran