Sains Tumbuh, Humaniora Menuntun Langkah

DI tengah dorongan untuk melahirkan lebih banyak ahli sains dan teknologi, ada pertanyaan yang ikut mengemuka: ke mana arah ilmu-ilmu humaniora?

Sains Tumbuh, Humaniora Menuntun Langkah
SIMPOSIUM NASIONAL: Menteri Kebudayaan Fadli Zon ketika memberi sambutan acara Simposium Nasional Guru Besar (SNGB) Humaniora di Fakultas Ilmu Budaya UI, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (11/8).

Pertanyaan itu mengemuka dalam Simposium Nasional Guru Besar (SNGB) Humaniora di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI), Depok, Selasa (11/8).

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai, keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) merupakan langkah yang tepat. Indonesia, menurutnya, masih membutuhkan lebih banyak tenaga ahli di bidang tersebut untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain.

“Saya kira afirmasi STEM itu juga sudah tepat. Dan banyak ilmu humaniora sekarang ini yang tidak bisa dipisahkan juga dengan STEM,” ujarnya, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (11/8).

Fadli menyebut afirmasi diperlukan karena Indonesia masih kekurangan ahli pada sejumlah bidang yang menjadi fondasi perkembangan teknologi. Matematika, sains, teknik, hingga teknologi membutuhkan dorongan lebih besar agar Indonesia mampu membangun kapasitas sendiri.

Dia mencontohkan kebutuhan terhadap ahli roket, rudal, matematika hingga fisika kuantum. Keahlian tersebut dibutuhkan untuk memperkuat kemampuan Indonesia menghadapi perkembangan teknologi dan persaingan global.

“Kita dibandingkan dengan negara-negara lain kita tertinggal, sehingga perlu dorongan untuk ahli-ahli roket, ahli rudal, ahli matematika, fisika kuantum dan lainnya, karena kita harus mengejar itu,” katanya.

Namun, menurut Fadli, penguatan STEM tidak berarti humaniora harus disisihkan. Justru sebaliknya. Perkembangan teknologi membutuhkan manusia yang mampu memahami masyarakat, budaya, etika, sejarah, serta dampak dari setiap perubahan yang ditimbulkannya. Karena itu, dia melihat tidak ada pertentangan antara STEM dan humaniora.

“Jadi, saya tidak melihat itu ada pertentangan. Yang jelas justru yang STEM yang perlu afirmasi,” katanya.

Di ruang simposium, para guru besar humaniora dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia justru sedang membicarakan posisi ilmu mereka di tengah perubahan zaman.

Dekan FIB UI Untung Yuwono mengatakan, forum tersebut menjadi ruang untuk membahas perkembangan wacana pendidikan yang belakangan banyak memberi perhatian kepada STEM. (gin)


Editor : Inilahkoran