Saksi Kos Beberkan Detik-Detik Kedatangan Pelaku dan Korban YTR yang Lemah
Kesaksian istri penjaga kos bernama Mulyati menjadi salah satu potongan penting, dalam kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kesaksian istri penjaga kos bernama Mulyati menjadi salah satu potongan penting, dalam kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap seorang perempuan berinisial YTR yang kini tengah ditangani aparat kepolisian.
Dari keterangannya, terdapat sejumlah aktivitas mencurigakan yang terjadi selama korban berada di lingkungan kos tersebut.
Mulyati mengungkapkan, pelaku datang bersama korban pada 9 Maret 2026 dengan kondisi yang terlihat tidak biasa. Korban disebut masih bisa berjalan, namun dalam keadaan lemah dan bergerak sangat pelan seperti orang sakit. Saat itu, wajah korban juga tertutup. Sementara pelaku mengenakan helm dan jaket abu-abu.
“Pelaku pakai helm, jaket abu-abu dan wajahnya tertutup. Korban itu masih bisa jalan tapi pelan sekali, seperti orang sakit,” kata Mulyati, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, korban tidak langsung dibawa ke kamar kos saat pertama kali datang melainkan sempat berada di bagian belakang bangunan.
Selama korban berada di kos tersebut, Mulyati mengaku tidak pernah mendengar suara perempuan, teriakan atau rintihan minta tolong dari dalam kamar. Namun, beberapa kali mendengar suara batuk keras yang diduga berasal dari pelaku.
“Tidak pernah ada suara perempuan atau minta tolong. Yang sering terdengar hanya batuk pelaku, batuknya keras,” ucapnya.
Meski demikian, dia sempat mendengar suara seperti pukulan atau tendangan ke arah tembok. Namun saat diperiksa, tidak ditemukan kejadian mencurigakan secara langsung.
“Pernah terdengar suara seperti dipukul atau ditendang ke tembok, tapi waktu dicek tidak ada apa-apa,” ujar dia.
Menurut Mulyati, jika suara tersebut terdengar lebih jelas. Kemungkinan besar akan langsung merasa curiga dan melapor. Namun saat itu, belum mendapatkan bukti yang cukup kuat untuk mengambil tindakan.
Dari sisi interaksi, pelaku disebut cukup sering berbicara dengan dirinya maupun suaminya. Percakapan yang terjadi pun terlihat normal tanpa menimbulkan kecurigaan awal. “Dia suka ngobrol biasa saja dengan suami saya, tidak ada yang aneh,” jelasnya.
Pelaku juga sempat menyampaikan, korban adalah pasangannya yang mengalami gangguan penglihatan sejak kecil dan akan menjalani operasi mata. Pelaku menyebut, membutuhkan biaya sekitar Rp10 juta dan menggunakan BPJS. Pelaku juga mengaku berasal dari daerah Nagreg.
“Katanya sakit mata, mau operasi, minusnya besar dari kecil. Orang tuanya di Jawa,” ungkap dia menirukan pengakuan pelaku.
Selain itu, Mulyati menyebut pelaku selalu mengunci kamar setiap kali keluar bahkan untuk aktivitas singkat seperti membeli makanan. Hal itu menurutnya membuat pelaku tampak sangat waspada.
“Kalau keluar selalu dikunci, beli nasi pun dikunci. Seperti takut ada orang masuk,” ujarnya.
Terkait biaya kos, dia menjelaskan tarif kamar dengan kamar mandi dalam adalah Rp500 ribu untuk satu orang dan Rp600 ribu untuk dua orang per bulan.
Momen lain yang diingat Mulyati adalah saat pelaku hendak pergi ke rumah sakit. Pelaku sempat meminjam kerudung, dan terlihat bersiap cukup lama sebelum memesan kendaraan daring. Pada 9 Juni, pelaku menunggu kendaraan mobil daring berangkat.
Saat itu, pelaku juga sempat diminta menunjukkan identitas. Pelaku mengaku akan membawa surat nikah ke Nagreg dan menyebut identitasnya akan difoto. Korban kemudian dibawa dalam kondisi digendong pelaku, dengan wajah tertutup menuju mobil yang telah dipesan.
“Korban digendong, wajahnya ditutup. Mobil mundur sampai gerbang,” ucap Mulyati.
Dalam perjalanan, suami Mulyati ikut berada di dalam mobil. Sementara pelaku berada di belakang dan kemudian mengikuti menggunakan sepeda motor tidak berada satu kendaraan dengan korban.
Selain kejadian tersebut, Mulyati juga mengungkap adanya perubahan perilaku pelaku selama tinggal di kos selama sekitar tiga bulan. Pelaku disebut beberapa kali menunjukkan emosi yang tidak stabil, dan tiba-tiba mengajak berkelahi.
Dia juga sering meminta bantuan saat dalam kondisi mabuk, seperti diantar mengambil uang atau membeli makanan. “Kalau lagi mabuk suka minta dianter ambil uang atau beli makanan. Kami hanya mengikuti saja,” ujar dia.
Hingga kini, kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap YTR masih dalam penyelidikan aparat kepolisian. Sementara itu, korban dilaporkan masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung akibat luka serius yang dialaminya.***
Editor : JakaPermana

