Sambangi Warga KBB yang Hidup Bersama Kambing, Pemda KBB Janjikan Hal ini

Kisah pilu warga KBB yang hidup bersama kambing menggugah Pemda Kabupaten Bandung (KBB) mengunjungi keluarga Sukiman (34) warga Kampung Legoknangka RT 02 RW 09, Desa Campakamekar, Kecamatan Padalarang.

Sambangi Warga KBB yang Hidup Bersama Kambing, Pemda KBB Janjikan Hal ini
Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) KBB datang bersama dengan Kemensos telah mengunjungi warga KBB yang hidup bersama kambing di kediamannya. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Kisah pilu warga KBB yang hidup bersama kambing menggugah Pemda Kabupaten Bandung (KBB) mengunjungi keluarga Sukiman (34) warga Kampung Legoknangka RT 02 RW 09, Desa Campakamekar, Kecamatan Padalarang.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) KBB datang bersama dengan Kemensos telah mengunjungi warga KBB yang hidup bersama kambing di kediamannya.

"Pemda KBB tidak segera ke lokasi (warga KBB yang hidup bersama kambing) bukan berarti tidak peduli karena seluruh kegiatan harus menempuh prosedur," Kepala Disperkim KBB Anni Roslianti kepada wartawan.

Anni menyebut, Pemda KBB melalui Disperkim KBB bakal memperbaiki rumah milik Sukiman dan Sopiah sesuai ketentuan.

"Bukannya kami tinggal diam, tapi jujur saja tidak mungkin semua rumah tidak layak huni (Rutilahu) di seluruh KBB kami ketahui," sebutnya.

Menurut Anni, laporan dari masyarakat, maupun seperti yang dimuat di media sangat membantu pihaknya dalam mendata rutilahu. 

"Tentunya kami menerapkan skala prioritas untuk perbaikan rutilahu," tuturnya.

Anni menjelaskan, perbaikan dituangkan dalam bentuk surat pernyataan yang ditandatangani Kepala Disperkim KBB, Anni Roslianti disaksikan kepala desa dan aparat desa.

"Kriteria penerima bantuan adalah 
 Warga Negara Indonesia dan sudah berkeluarga, memiliki KTP dan Kartu Keluarga sesuai dengan domisili tetap, 
memiliki atau menguasai tanah, dalam pengertian bahwa tanah yang dikuasai secara fisik dan memiliki legalitas (sertifikat/surat keterangan) serta tidak dalam sengketa," jelasnya.

"Kemudian lokasi tanah sesuai tata ruang wilayah, serta memiliki dan menempati rumah satu-satunya dengan kondisi tidak layak huni," sambungnya.

Anni menerangkan, hasil dari klarifikasi bahwa tanah yang dipakai kandang kambing merupakan tanah warisan yang sudah dibeli oleh Sukirman dari orangtuanya. Awalnya tanah tersebut milik neneknya. 

Disperkim KBB dan Kemensos berinisiatif 
mengumpulkan ahli waris untuk membuat surat pernyataan bahwa tanah tersebut bukan sengketa. Sukirman mengaku tidak mengetahui berapa luas dari tanah tersebut.

"Menurut pengakuannya,tanah itu dibeli Rp 4 juta tapi tanpa bukti tertulis," ucapnya.

Sebelumnya, Sukiman (34) warga Kampung Legoknangka RT 02/09 Desa Campakamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) hanya bisa pasrah dengan nasib keluarganya yang tak seberuntung tetangganya.

Bersama Sopiah (32) dan seorang anaknya, Sukiman hidup bersama empat ekor domba dan puluhan unggas di dalam sebuah bangunan berbahan bambu, beratap asbes dan berlantai tanah. 

Ironisnya, di dalam bangunan itu terdapat kandang domba berukuran 2x5 meter, beberapa kandang unggas, dan sebuah kamar tidur sekaligus dapur berukuran 2x2 meter.

"Tinggal di sini (kandang domba) sudah setahunan sejak tahun kemarin. Tinggalnya bertiga sama suami sama anak," kata Sopiah saat ditemui di kediamannya.

Sopiah mengungkapkan, dirinya bersama sang suami lebih memilih tinggal di lahan milik orangtuanya yang kini menjadi kandang domba dan memilih menjadi keluarga yang mandiri.

Bau yang menyengat dari kotoran domba tak mereka hiraukan meski kerap mengganggu indra penciuman mereka saat berada di tempat tidur.

Bagi mereka yang terpenting ada tempat berteduh dan berlindung dari cuaca luar rumah dan ada tempat istirahat untuk tidur pada malam hari.

"Kalau tidur ya bertiga di sini sama suami sama anak. Masak juga di sini. Kalau masak masih pakai kayu bakar," ucapnya.

Mirisnya lagi, mereka tidur berdesakan di sebuah papan yang ditata dengan ukuran 2x2 meter yang berdampingan dengan bumbu dapur dan pawon tempat mereka mengolah masakan. (agus satia negara)


Editor : Doni Ramdhani