Semenjak Pandemi, Produksi Perajin Tusuk Sate di Kutawaringin Menurun
Selama pandemi perajin tusuk sate di Kutawaringin Kabupaten Bandung menurun drastis terlebih dengan merebaknya penjualan online
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Ribuan perajin tusuk sate yang berada di dua desa di Kecamatan Kutawaringin Kabupaten Bandung, sejak tiga tahun ini meradang diterjang pandemi Covid-19.
Penjualan hasil produksi tusuk sate mereka anjlok hingga lebih dari 70 persen, seiring banyaknya usaha kuliner sate yang tak beroperasi selama pandemi.
"Biasanya saya sekali kirim ke enam pasar itu sekitar 10 karung tusuk sate. Itu sebulan dua kali, nah sejak ada pandemi saya cuma tiga karung dan sebulan cuma satu kali saja. Ini terjadi sejak ada pandemi, usaha makanan seperti sate Madura dan lainnya kan banyak yang tutup. Itu imbasnya kepada kami para perajin tusuk sate," kata Tayat (52) perajin yang juga bandar tusuk sate warga Kampung Cipeundeuy RT 2 RW 15 Desa Cibodas Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung kepada Inilahkoran, Minggu 20 Februari 2022.
Baca Juga: Ibu Rumah Tangga di Sukabumi Dirungkus Polisi, Gegara Nipu Jual Minyak Goreng Murah
Dikatakan Tayat, tusuk sate hasil produksi ia dan warga di Desa Cibodas dan Desa Kutawaringin itu, sejak sekitar tahun 80 an dijual keberbagai pasar yang ada di Jabotabek, bahkan ada yang menjual hingga keluar pulau. Namun karena pandemi, usaha yang sudah turun- temurun mereka geluti itu mulai menurun.
"Usaha pembuatan tusuk sate itu untungnya enggak besar. Cuma cukup untuk bertahan hidup kami sekeluarga saja. Sebelum ada pandemi saja kami hidup sederhana, apalagi sekarang masih bisa bertahan saja sudah Alhamdulilah," ujarnya.
Dalam sebulan, lanjut Tayat, dari usaha tusuk sate ini rata-rata penghasilannya sekitar Rp 4 juta. Selain dikerjakan oleh ia sekeluarga, ia juga dibantu oleh 10 orang warga yang menjadi mitra kerjanya. Rata-rata mitra kerjanya yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga itu berpenghasilan sekitar Rp 30 ribu perhari. Meski kecil, namun lumayan untuk menambah penghasilan keluarga.
Baca Juga: Soal Vonis Seumur Hidup Herry Wirawan, Ini Kepastian Keputusan Kejaksaan
"Kalau di Desa Cibodas itu ada empat bandar besar seperti saya. Mereka punya mitra kerja warga setempat jumlahnya antara 10 hingga 15 orang atau rumah. Nah selain empat bandar besar, ada juga yang perorangan jadi setiap rumah disini semuanya produksi tusuk sate. Jadi walaupun hasilnya kecil tapi Alhamdulilah warga di sini mah jarang ada yang nganggur," katanya.
Tayat menceritakan, sejarah Desa Cibodas dan Kutawaringin menjadi sentra perajin tusuk sate. Ini bermula dari seorang warga Kampung Cilimus bernama Aki Inin, yang membuat tusuk sate dan menjajakannya sendiri dengan cara dipikul ke berbagai pasar di Kabupaten dan Kota Bandung sekitar tahun 1980 an.
Aki Inin memilih usaha pembuatan tusuk sate karena memang bahan baku pohon bambu sangat melimpah di daerah tersebut. Seiring berjalannya waktu, warga lainnya di Desa Cibodas dan Desa Kutawaringin mulai mengikuti jejak Aki Inin. Penjualan tusuk sate hasil para perajin di dua desa inipun terus menyebar semakin luar keberbagai pasar.
Baca Juga: 2 Istri Rasulullah SAW Ini Wajib Kita Teladani, Ustadzah Oki Setiana Dewi: Pinter Cari Uang!
"Sejak saat itu warga di Desa Cibodas dan Desa Kutawaringin menggeluti usaha pembuatan tusuk sate. Ada yang total cari nafkahnya bikin tusuk sate ada juga yang sampingan disela aktivitas lainnya seperti bertani, beternak dan lainnya. Namun setiap rumah di dua desa ini yah rata-rata menjadi perajin tusuk sate dan itu dilakukan oleh semua anggota keluarga," katanya.
Untuk kebutuhan bahan baku, lanjut Tayat, pegunungan atau bukit yang ada disekitar desa mereka membawa berkah yang luar biasa. Beragam jenis tanaman bambu tumbuh subur dan memberikan manfaat bagi mereka. Namun karena kebutuhan bahan baku terus meningkat, hingga mereka pun harus membeli bambu dari luar daerahnya.
"Bambu jenis Gombong dan jenis Temen memang banyak di daerah ini. Tapi karena kebutuhannya tingga, pasokan bambu dari daerah sendiri mulai sulit. Untuk memeni uhi kebutuhan bahan baku, sebagian kami membeli bambu dari daerah Cililin Kaberupaaten Banduapntal g Barat. Harga bambu Gombong Rp 35 ribu perbatang dan bambu Temen Rp 12 ribu perbatang" katanya.
Baca Juga: David da Silva Diganti Saat Hadapi Persipura dan Tarik 4 Pemain Lain, Ini Alasan Robert Albert
Tayat melanjutkan, setiap bulannya, ribuan batang bambu dibutuhkan oleh ribuan perajin tusuk sate di Desa Cibodas dan Desa Kutawaringin. Untuk keperluan ia saja sebagai perajin besar, kebutuhannya antara 50 hingga 100 batang bambu perbulan. Sedangkan kebutuhan perajin mandiri, setiap rumah rata-rata membutuhkan 10 hingga 20 batang bambu perbulan.
"Tusuk bambu yang kami buat itu manual pakai golok. Namun memang proses pemotongan dan penghalusannya kami memakai mesin sebagai alat bantu untuk mempercepat pekerjaan,"katanya.(rd dani r nugraha).
Editor : inilahkoran


