Sikap Kami: Air Mata Abah Deden

Longsor di Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat (KBB) menyisakan duka mendalam bagi para korban. Bencana ini jadi peringatan keras: alam tidak bisa terus dijadikan korban pembangunan tanpa visi berkelanjutan.

Sikap Kami: Air Mata Abah Deden
Foto udara kondisi lahan pertanian dan rumah warga yang terdampak longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Minggu (25/1/2026). (ANTARA FOTO/Abdan Syakura)

AIR mata mengalir di antara reruntuhan, tanah retak, dan udara berat, menyimpan duka yang tak terkatakan. Di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) longsor menelan rumah, keluarga, dan harapan.

Abah Deden (55) berdiri di tengah puing, mata merah, suara bergetar, memanggil adik, keponakan, dan orang-orang yang masih tertimbun. Air mata satu keluarga adalah cermin dari kesedihan yang lebih luas. Alam rusak, memuntahkan bencana.

Kesedihan Abah Deden bukan sekadar ratapan, tetapi panggilan bagi semua. Setiap tegakan pohon yang ditebang tanpa perhitungan, lahan gundul demi kepentingan sesaat, adalah benih longsor.

Aktivitas itu menunggu waktu untuk menjerat manusia kembali. longsor bukan semata takdir, tapi balasan alam atas kelalaian manusia.

Hujan deras hanyalah pemicu. Kerusakan lingkungan yang menumpuk selama bertahun-tahun menjadi alasan mengapa tanah longsor menelan korban begitu cepat dan kejam. Desa Pasirlangu kini menjadi bukti nyata: ketika manusia mengabaikan alam, bencana datang tanpa kompromi.

Tim SAR, Basarnas, BNPB, dan aparat lainnya bekerja tanpa henti, mengevakuasi korban dan menyalurkan bantuan. Mereka menjadi jembatan sementara antara kehancuran dan harapan.

Namun operasi penyelamatan hanyalah pertolongan pertama; akar masalah tetap ada di tanah yang telah dirusak. Tanah yang dahulu menahan hujan dengan tenang kini tak sanggup menanggung beban kerusakan.

Pemerintah telah menyiapkan relokasi, hunian sementara, dan klaster bantuan bagi pengungsi. Tapi penyelamatan manusia saja tidak cukup.

longsor Cisarua adalah peringatan keras: alam tidak bisa terus dijadikan korban pembangunan tanpa visi berkelanjutan.

Evaluasi tata ruang, penegakan hukum lingkungan, penghentian praktik perusakan hutan, serta pengelolaan lahan berbasis mitigasi risiko adalah kewajiban mutlak.

Air mata Abah Deden adalah suara alam itu sendiri. Setiap tangisannya mencerminkan luka lingkungan yang dibiarkan merana.

Tragedi ini bisa menjadi titik balik: jika berani belajar, menegakkan hukum, dan memulihkan alam, Cisarua bisa kembali hijau. Manusia manusia serta alam, hidup berdampingan tanpa saling menelan.

Jika pesan ini diabaikan, hujan berikutnya akan kembali membawa bencana, dan air mata akan terus mengalir, tanpa henti.

bencana longsor bukan sekadar kehilangan nyawa, tetapi cermin dari perilaku manusia terhadap alam. Selamatkan lingkungan, selamatkan manusia. *


Editor : Gin gin T Ginulur