Sikap Kami: Angin Segar di Kertajati

BANYAK hal jadi penyebab Bandara Internasional Jawa Barat atau BIJB Kertajati mati suri. Orang yang tak senang, menyebutnya sebagai proyek mangkrak. Padahal, sebenarnya meleset perhitungan saja.

Sikap Kami: Angin Segar di Kertajati
BIJB Kertajati akan kembali menderu dengan dan akan melayani penerbangan umrah dan haji.

BANYAK hal jadi penyebab Bandara Internasional Jawa Barat atau BIJB Kertajati mati suri. Orang yang tak senang, menyebutnya sebagai proyek mangkrak. Padahal, sebenarnya meleset perhitungan saja.

BIJB Kertajati dirancang selesai berbarengan dengan tuntasnya pengerjaan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu). Dengan begitu, waktu tempuhnya hanya sekitar 1,5 jam. Kira-kira setaralah dengan jarak tempuh Jakarta Timur ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

BIJB Kertajati selesai tepat waktu, Tol Cisumdawu tidak. Sudah biasa, penyelesaian pembangunan jalan tol waktunya demikian panjang. Utamanya adalah karena pembebasan lahan yang berbelit-belit.

Situasi itu membuat BIJB Kertajati seperti istana di tengah hutan. Infrastruktur pendukungnya tak memadai. Warga Jawa Barat lebih senang terbang melalui Soekarno-Hatta atau bahkan Husein Sastranegara. Setidaknya lebih banyak alternatif.

Belakangan, muncul pula pandemi Covid-19. BIJB Kertajati termasuk salah satu bandara yang paling terdampak. Dia istirahat total. Sama seperti satu-dua bandara yang baru selesai dibangun di era Presiden Joko Widodo.

Mestinya ada jalan keluar yang diambil pemerintah saat itu. Tapi, pandemi Covid-19 merintangi. Pergerakan orang menjadi sangat terbatas. Maskapai-maskapai penerbangan terpukul. BIJB Kertajati ikut terpukul.

Kini, pemerintah menemukan solusi. Sambil menunggu penuntasan Tol Cisumdawu, BIJB dijadikan embarkasi haji dan umrah. Ini langkah yang bagus, meski tetap belum maksimal memanfaatkan fasilitas bandara.

Mestinya, langkah seperti ini, sudah bisa diambil pemerintah beberapa waktu sebelumnya. Saat pelonggaran aturan perjalanan mulai diberlakukan. Tapi tak apa. Masih lebih baik terlambat dibanding tidak sama sekali.

Langkah lain yang sebenarnya juga dimanfaatkan adalah mengalihkan penerbangan kargo internasional ke BIJB. Ini lebih bermanfaat, lebih berbunyi ketimbang menjadikan BIJB sebagai bengkel pesawat.

Maka, dalam waktu dekat, deru mesin pesawat akan kembali terdengar dari Kertajati. Mungkin hanya sesekali. Yakni saat ada jamaah umrah berangkat menuju Jeddah.

Sekali lagi, tak apa. Penerbangan umrah atau tahun depan haji, tetaplah bisa setidaknya untuk memastikan bahwa ada aktivitas penerbangan di Kertajati. Bagi bandara, penerbangan adalah kemutlakan.

Kita meyakini, dengan segera selesainya Tol Cisumdawu, BIJB akan bangkit dari mati suri. Penerbangan-penerbangan komersial lainnya, antar daerah, termasuk juga rute internasional, bakal menggeliat lagi.

Keyakinan itu karena aktivitas penerbangan sebagai sarana transportasi sudah jadi kebutuhan mutlak. Jika Bandara Halim atau Pondok Cabe saja laku, apalagi Kertajati. (*)


Editor : Zulfirman