Sikap Kami: Polda Jabar Tanpa Alasan
TAK ada alasan Polda Jawa Barat tak bisa menjaga kamtibmas. Tak ada alasan Polda Jabar tak bisa meningkatkan kondusivitas berbasis kedekatan dengan masyarakat dan kultur kesundaan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
TAK ada alasan Polda Jawa Barat tak bisa menjaga kamtibmas. Tak ada alasan Polda Jabar tak bisa meningkatkan kondusivitas berbasis kedekatan dengan masyarakat dan kultur kesundaan.
Kenapa? Ini jawabnya: kini Polda Jawa Barat dipimpin putra-putra terbaik Tanah Pasundan. Dua pucuk pimpinannya adalah mereka yang di dalam tubuhnya mengalir darah kesundaan. Keduanya juga polisi-polisi terbaik di Tanah Air.
Kapolda Jawa Barat, Irjen Akhmad Wiyagus, adalah penerima Hoegeng Award. Dia lahir di tengah kehalusan kultur dan budi pekerti Tasikmalaya. Lama bertugas di wilayah Jawa Barat. Bahkan pernah jadi Wakapolda Jawa Barat, enam tahun lalu.
Wakilnya? Brigjen Adi Vivid Agustiadi Bachtiar. Dia orang Gabuswetan, Indramayu, meski lahir di Purwodadi. Ayahnya, Dai Bachtiar, adalah Kapolri di era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono.
Seperti Wiyagus, Adi juga polisi berprestasi. Lulusan Akpol tahun 1998, berselisih 10 tahun dengan Kapolda, dia menjadi polisi yang mencapai bintang di bahu paling cepat: tahun 2022, saat berusia 45 tahun.
Masa tugasnya di Jawa Barat juga terbentang panjang dan lama. Dari Cimahi, Bandung Barat, Bandung, hingga Cirebon. Di Cirebon, dia menjadi Kapolres Cirebon pada 2016 lalu dan menggagalkan upaya aksi terorisme yang diduga diarahkan kepada Presiden Jokowi.
Jika basis utama Wiyagus adalah reserse kriminal, termasuk di antaranya tindak pidana korupsi, Adi lebih beragam. Dia pernah berkiprah di dunia reskrim, termasuk reskrimsus, lalu lintas, moneter, bahkan tindak pidana siber. Cukup lengkap.
Maka, sebenarnya, duet Wiyagus-Adi tinggal menyatukan diri dengan segala keahlian, kelurusan, komitmen, untuk menjadikan Polda Jabar betul-betul presisi. Tinggal memaknakan kamtibmas dan kondusivitas tidak hanya terhadap masyarakat di Jawa Barat, juga terhadap anggota-anggotanya di Polda Jabar.
Selebihnya, bagaimana mengkomunikasikan apa yang mereka lakukan di Jabar kepada masyarakat dengan baik. Itu pun mereka tak kekurangan orang. Ada Kombes Hendra Rochawan. Juga “urang Sunda”, pria asal Kabupaten Garut. Setidaknya dalam tujuh tahun terakhir, Hendra bergulat dengan kehumasan. Selepas jadi Kapolres Kapuas, dia menjadi Kabid Humas Polda Kalimantan Tengah dan kemudian ditarik memperkuat Divisi Humas Mabes Polri.
Jadi, ya tidak ada alasan Polda Jabar akan gagal menghadirkan kamtibmas yang presisi. Tapi, justru kondisi itu pula menjadi tantangan berat bagi mereka. Sebab, jika gagal, ya mereka melakukannya di wilayah hukum kampung halaman sendiri.
Selamat bertugas. (*)
Editor : Zulfirman

