Sikap Kami: Ujian Libur Panjang

Libur panjang menguji insfrastruktur di Jawa Barat. Saat itu, jutaan orang bergerak untuk berkumpul bersama keluarga.

Sikap Kami: Ujian Libur Panjang
Ilustrasi kemacetan saat libur panjang.

SETIAP libur panjang, Jawa Barat seperti menarik napas lebih berat dari biasanya. Jalan-jalan utama dipenuhi kendaraan yang bergerak pelan. Stasiun dan terminal menampung rindu yang menumpuk. Kota-kota penyangga menjadi persinggahan yang tak pernah benar-benar siap.

Di tengah riuh itu, pelayanan publik kembali diuji. Bukan oleh hal yang tiba-tiba, melainkan sesuatu yang selalu datang tepat waktu: libur panjang Natal dan Tahun Baru.

Pemerintah memprediksi Puncak arus mudik akhir tahun ini akan jatuh pada 24 Desember 2025. Saat itu, jutaan orang di seluruh negeri bergerak untuk merayakan dan berkumpul bersama keluarga.

Angka perkiraan menunjukkan sekitar 17,18 juta orang bergerak pada Puncak arus mudik. Sementara arus balik diproyeksikan kembali memuncak pada 2 Januari 2026 dengan lebih dari 20 juta orang dalam perjalanan pulang ke kota masing-masing.

Dari Puncak hingga Pantura, jalur selatan hingga simpul-simpul kota, kepadatan seakan menjadi ritual tahunan. Kalender sudah memberi tanda, peta lalu lintas sudah bisa diperkirakan, namun yang kerap tertinggal adalah kesungguhan.

Kesiapan itu memang tidak sepenuhnya absen. Di Jawa Barat, berbagai upaya tengah dilakukan pemangku kebijakan. Polres di beberapa wilayah seperti Kuningan telah menyiagakan ratusan personel gabungan dalam Operasi Lilin Lodaya untuk pengamanan Natal dan Tahun Baru.

Di ruas tol dan titik rawan macet lainnya, Kapolda Jabar bahkan meninjau langsung pos pengamanan untuk kesiapan menghadapi lonjakan arus kendaraan.

Namun pelayanan publik di masa libur bukan sekadar spanduk imbauan atau barisan posko di tepi jalan. Pelayanan publik diuji lewat informasi jujur, pengaturan lalu lintas bernalar, transportasi umum manusiawi, serta petugas yang bekerja bukan hanya dengan seragam, tetapi juga dengan empati.

Sebab di balik setiap klakson yang bersahutan, ada keluarga yang ingin tiba dengan selamat; di balik setiap antrean panjang, ada kesabaran yang diuji tanpa diminta.

Jawa Barat bukan daerah yang kekurangan pengalaman. Setiap tahun, lonjakan datang dengan pola yang nyaris serupa. Namun pengalaman kerap berhenti sebagai catatan, bukan pelajaran.

Kebijakan sering lahir ketika kepadatan sudah memuncak, sementara masyarakat kembali diminta mengerti keadaan. Padahal, memahami tidak selalu berarti menerima tanpa perbaikan.

Libur panjang seharusnya menjadi ruang jeda, bukan ruang lelah. Libur panjang mestinya menghadirkan rasa aman, bukan sekadar imbauan berhati-hati.

Ketika pelayanan publik bekerja dengan perencanaan matang dan koordinasi yang utuh, kepadatan tak harus berubah menjadi kekacauan. Jalan boleh padat, tetapi kepercayaan publik jangan sampai ikut tersendat.

Pada akhirnya, jalan-jalan yang sesak di musim libur adalah cermin besar. Memantulkan sejauh mana negara belajar dari tahun ke tahun, sejauh mana pelayanan publik bergerak dari rutinitas menuju kepedulian.

Sebab bagi warga Jawa Barat, libur panjang bukan permintaan istimewa, hanya berharap negara tetap hadir, bahkan ketika semua sedang berlibur. ***


Editor : Gin gin T Ginulur