Karhutla Makin Meluas, Dedi Mulyadi Desak Pendakian Gunung Dihentikan Sementara

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mendesak penghentian pendakian gunung di seluruh Jawa Barat lantaran makin meluasnya Karhutla

Karhutla Makin Meluas, Dedi Mulyadi Desak Pendakian Gunung Dihentikan Sementara
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Jabar.

INILAHKORAN.ID - Meluasnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Jawa Barat, mendorong Gubernur Dedi Mulyadi meminta pemerintah daerah mengambil langkah tegas. Salah satunya dengan menghentikan sementara aktivitas pendakian gunung, selama musim kemarau dan fenomena El Nino masih berlangsung.

Menurut Dedi, kawasan pegunungan saat ini berada dalam kondisi rawan kebakaran. Selain faktor cuaca ekstrem yang menyebabkan vegetasi mengering, aktivitas manusia dinilai turut berpotensi memicu munculnya titik api.

Sebab itu, ia meminta kepala daerah yang memiliki kawasan pendakian populer, termasuk Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur, segera mengeluarkan kebijakan pembatasan aktivitas pendaki.

"Bupati Cianjur dan Bupati Bogor, serta daerah-daerah yang gunungnya digunakan untuk dilakukan apa namanya, kegiatan panjat gunung, sebaiknya ditunda dulu sementara," ujar Dedi di Kota Bandung baru-baru ini.

Dedi menilai, kebiasaan sebagian pendaki yang membawa rokok ke kawasan hutan menjadi salah satu risiko yang tidak bisa diabaikan. Dalam kondisi cuaca panas dan lahan kering, puntung rokok maupun api unggun yang tidak dipadamkan dengan sempurna dapat memicu kebakaran berskala besar.

"Karena banyak orang yang manjat gunung itu, itu bawa rokok dan bakar. Nah, sementara lah. Karena bikin bakar aja nggak terkendali jadi kebakaran. Sementara ini menurut saya tunda dulu, karena tidak semua orang disiplin ya," ucapnya.

Selain kawasan hutan, Dedi juga menyoroti potensi kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah. Ia meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota meningkatkan kewaspadaan serta memperketat pengawasan di area TPA agar tidak menjadi sumber kebakaran baru selama musim kemarau.

"Kalau TPA kan bupati-bupatinya harus segera tanggap di lingkungan TPA-nya masing-masing. Kalau menurut saya sih, hindarkan orang bawa korek api dan rokok ke tempat TPA," katanya.

Peringatan tersebut muncul seiring meningkatnya kasus Karhutla di berbagai wilayah Jawa Barat. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat hingga 24 Agustus 2026, tercatat 132 kejadian Karhutla yang tersebar di 91 kecamatan dan 153 desa atau kelurahan. Total luas lahan yang terbakar mencapai 196,40 hektare.

Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat mengungkapkan, Kabupaten Sumedang menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak sepanjang musim kemarau tahun ini.

"Hingga akhir Agustus ini, tercatat ada 132 kejadian Karhutla di Jawa Barat. Kabupaten Sumedang menjadi daerah dengan insiden terbanyak yakni 20 kejadian yang membakar 21,68 hektare lahan di 11 kecamatan dan 21 desa," ujar Hadi.

Sementara itu, kerusakan lahan terluas terjadi di Kabupaten Sukabumi. Besarnya area terdampak menunjukkan tingginya ancaman Karhutla di wilayah selatan Jawa Barat yang tengah dilanda kekeringan.

"Untuk dampak kerusakan lahan terluas terjadi di Kabupaten Sukabumi. Dari 12 kejadian yang tersebar di 11 kecamatan dan 15 desa, total area yang terbakar mencapai 49,20 hektare," katanya.

BPBD juga mencatat Kabupaten Majalengka mengalami 15 kejadian dengan luas lahan terbakar 25,91 hektare. Disusul Kabupaten Kuningan dengan 10 kejadian yang menghanguskan 23,80 hektare lahan dan Kabupaten Cirebon sebanyak delapan kejadian dengan luas terdampak 20,73 hektare.

"Disusul Kabupaten Kuningan sebanyak 10 kejadian seluas 23,80 hektare, serta Kabupaten Cirebon dengan 8 kejadian seluas 20,73 hektare," ungkapnya.

Karhutla juga terjadi di Kabupaten Bandung, Subang, dan Purwakarta. Bahkan, perambatan api mulai terdeteksi di sejumlah kawasan perkotaan, meski dalam skala yang lebih kecil.

"Tak hanya kabupaten, pergerakan api turut merembet ke kawasan perkotaan seperti Kota Sukabumi, Kota Bandung, dan Kota Depok meski dalam skala yang lebih kecil," jelas Hadi.

Di tengah meningkatnya ancaman Karhutla, Dinas Kehutanan Jawa Barat memperkuat upaya pencegahan melalui patroli rutin, pemantauan kawasan rawan, edukasi masyarakat, serta koordinasi lintas instansi.

"Kami bersama berbagai pihak terus mengintensifkan patroli berkala di wilayah rawan, memantau kondisi tutupan hutan, menggalakkan sosialisasi edukatif, serta memperkuat koordinasi lintas sektor demi meminimalkan risiko Karhutla," ujar Kepala Dinas Kehutanan Jawa Barat, Dodit Ardian Pancapana. 


Editor : Ahmad Sayuti