Sikapi Musibah dengan Keyakinan kepada-Nya
Saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Allah, penting bagi kita memiliki keterampilan menyikapi musibah. Baik itu musibah yang terjadi secara langsung atas diri kita, maupun musibah yang terjadi atas diri orang lain.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Allah, penting bagi kita memiliki keterampilan menyikapi musibah. Baik itu musibah yang terjadi secara langsung atas diri kita, maupun musibah yang terjadi atas diri orang lain.
Hal pertama yang penting dilakukan adalah menyadari dan meyakini sepenuh hati, apa pun yang terjadi di alam ini mutlak dalam kekuasaan Allah SWT. Baik itu sesuatu yang kita sukai maupun yang tidak kita sukai. Tidak ada sesuatu apa pun yang tidak terkendali. Semuanya ada dalam kekuasaan-Nya.
Allah berfirman, “Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. al-An’am [6]: 17)
Tiada yang kuasa menjadikan sesuatu peristiwa selain Allah SWT. Dan, hanya Allah pula yang kuasa menahan sesuatu kejadian agar tidak terjadi. Bersekutu seluruh jin dan manusia untuk menjadikan suatu peristiwa, jika Allah tidak mengizinkan maka pasti tidak terjadi. Tidak ada yang bisa menghalangi apa yang sudah Allah tentukan untuk terjadi, dan tidak ada yang bisa memaksakan sesuatu yang sudah Allah tetapkan untuk tidak terjadi.
Demikian juga dengan musibah yang terjadi, semua ada dalam kekuasaan Allah dan semua sudah terukur. Tidak ada musibah yang melampaui kesanggupan manusia untuk memikulnya.
Allah SWT berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (QS. al-Baqarah [2]: 286)
Bagaimana dengan mereka yang menjadi korban dalam suatu musibah? Kita wajib berbaik sangka kepada Allah atas apa pun takdir-Nya. Jika ada saudara kita sesama muslim yang meninggal dalam musibah tersebut, maka berbaiksangkalah Allah menghendaki mereka menjadi terhapus dosanya, dan mendapat kedudukan sebagai syuhada.
Rasulullah saw bersabda, “Orang yang mati syahid itu ada lima. Yaitu [1] orang yang meninggal karena penyakit tha’un (kolera), [2] orang yang meninggal karena penyakit perut, [3] orang yang meninggal karena tenggelam, [4] orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, [5] orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Bukhari, Muslim)
Demikian pula ketika kita melihat ada bayi atau balita yang turut menjadi korban dalam sebuah musibah, maka wajib kita berbaik sangka kepada Allah, bahwa Allah bermaksud menjadikan bayi atau anak tersebut sebagai penghuni surga tanpa hisab.
Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim ditinggal mati oleh tiga orang anaknya yang belum baligh kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga dikarenakan kasih sayang-Nya kepada mereka.” (HR. Bukhari, Muslim)
Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan pada hari kiamat kelak, Allah SWT berfirman kepada anak-anak, “Masuklah kalian ke dalam surga!” Anak-anak itu berkata, “Ya Rabbi, (kami menunggu) hingga ayah ibu kami masuk.” Kemudian anak-anak itu mendekati pintu surga namun tidak memasukinya, sehingga Allah berfirman, “Mengapa Aku melihat mereka enggan masuk? Masuklah kalian ke dalam surga!” Mereka menjawab, “Tetapi bagaimana dengan orangtua kami?” Allah pun berfirman, “Masuklah kalian ke dalam surga bersama orangtua kalian.” (HR. Ahmad)
Demikianlah, tidak ada yang lebih baik perencanaannya selain dari Allah SWT. Hati yang yakin hanya Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya, atas setiap peristiwa, maka ia akan semakin kokoh keimanannya, dan semakin memiliki ketenangan menghadapi berbagai episode kehidupan.
Mari kita ingat kembali kisah Abu Thalhah dan istrinya yaitu Ummu Sulaim. Satu ketika anak mereka terbaring sakit. Ketika Abu Thalhah sedang pergi, sang anak tercinta meninggal dunia.
Saat Abu Thalhah pulang, ia bertanya kepada sang istri mengenai keadaan anaknya. Ummu Sulaim pun menjawab, “Ia tenang seperti sedia kala.” Padahal yang dimaksud Ummu Sulaim adalah anaknya telah meninggal dunia, sedangkan Abu Thalhah mengira anaknya sedang tertidur. Ummu Sulaim berucap seperti itu untuk menjaga dulu perasaan suaminya.
Ummu Sulaim pun bersikap seperti biasanya, ia menyiapkan makan malam untuk Abu Thalhah. Kemudian, ia pun berhias diri dan melayannya. Setelah Abu Thalhah tampak lebih nyaman dan tenang, Ummu Sulaim bertanya kepadanya, “Suamiku, bagaimana pendapatmu jika suatu kaum meminjamkan suatu pinjaman, apakah yang meminjam itu berhak menolak mereka jika hendak mengambilnya kembali?”
Abu Thalhah pun menjawab, “Tentu saja tidak.” Ummu Sulaim melanjutkan ucapannya, “Maka demikian pula dengan anak kita. Dia telah meninggal, Allah mengambilnya kembali maka mintalah pahala kepada Allah.”
Abu Thalhah kesal atas perbuatan istrinya yang tidak berterus terang kepadanya. Dia pun mengadukan sikap istrinya kepada Rasulullah saw. Maka, Rasulullah menyampaikan perbuatan Ummu Sulaim adalah benar, dan beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.”
Seiring bergulirnya waktu, Ummu Sulaim kembali melahirkan putra yang oleh Rasulullah. diberi nama Abdullah. Kemudian pada satu masa, seorang dari kaum Anshar berkata, “Aku melihat tujuh orang anak yang semuanya pandai membaca al-Quran, mereka adalah anak-anak dari Abdullah.” Semua ini adalah buah dari doa Rasulullah saw, manakala beliau mendoakan keberkahan bagi malam yang telah dilewati oleh Abu Thalhah dan Ummu Sulaim.
Yakinlah bahwa setiap kejadian ada dalam kuasa Allah SWT. Rencana Allah senantiasa tepat, senantiasa baik. Tidaklah semata-mata Allah menakdirkan suatu kejadian, kecuali pasti ada hikmah yang sangat berharga. Salah satunya adalah menggantikan sesuatu yang hilang dari orang yang beriman dengan sesuatu yang lebih baik. (KH Abdullah Gymnastiar)
Editor : Bsafaat

