Simbol Kekecewaan, HMI Tasikmalaya Beri Kartu Kuning ke Pemkot Tasikmalaya

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tasikmalaya menggelar aksi unjuk rasa di depan Bale Kota Tasikmalaya, Senin (8/6/2026).

Simbol Kekecewaan, HMI Tasikmalaya Beri Kartu Kuning ke Pemkot Tasikmalaya
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aksi tersebut membawa spanduk dan melakukan orasi di depan gerbang Bale Kota Tasikmalaya. (n nurohman)

INILAHKORAN.ID - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tasikmalaya menggelar aksi unjuk rasa di depan Bale Kota Tasikmalaya, Senin (8/6/2026).

Aksi yang mengusung refleksi Hari Lahir Pancasila itu digelar sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai belum berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aksi tersebut membawa spanduk dan melakukan orasi di depan gerbang Bale Kota Tasikmalaya. Dalam aksinya, massa aksi mendesak agar dapat masuk ke area kantor pemerintahan untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.

Situasi sempat memanas ketika terjadi aksi saling dorong antara massa aksi dengan aparat kepolisian dari Polres Tasikmalaya Kota yang dibantu Satpol PP yang berjaga di lokasi. Meski demikian, aparat tetap berupaya mengendalikan situasi agar tetap kondusif.

Dalam aksi tersebut, massa aksi mengacungkan kartu kuning sebagai simbol kekecewaan terhadap pemerintah Kota Tasikmalaya, yang mereka nilai belum mampu menjawab berbagai persoalan masyarakat, terutama di sektor ekonomi.

Ketua Umum HMI Cabang Tasikmalaya Nazmi mengatakan, aksi itu merupakan bentuk ekspresi kritis mahasiswa berdasarkan hasil kajian internal organisasi.

“Ini adalah bagian daripada ekspresi masyarakat yang diusung oleh Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia. Hari ini kita tidak serta-merta datang ke Pemerintah Kota Tasikmalaya tanpa sebab dan tanpa dasar. Ini berdasarkan hasil kajian kita,” ujar Nazmi di sela aksi.

Ia menjelaskan, tema “Tasikmalaya Bagian dari Indonesia” lahir dari refleksi Hari Lahir Pancasila yang diperingati pada 1 Juni lalu.

“Bulan kemarin tanggal 1 Juni adalah Hari Lahir Pancasila. Kita refleksikan dan diskusikan bersama kawan-kawan HMI Cabang Tasikmalaya, dan hasilnya bertajuk ‘Tasikmalaya Bagian dari Indonesia’,” katanya.

Nazmi juga menyoroti adanya ketimpangan kebijakan yang menurutnya terjadi di berbagai tingkatan pemerintahan, mulai dari pusat, provinsi, hingga daerah, yang berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat.

“Melihat banyak sekali ketimpangan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pusat, provinsi, maupun daerah, sehingga berdampak pada ekonomi yang sangat meresahkan masyarakat,” ujarnya.

Dia juga menyampaikan, Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan tidak hadir menemui massa aksi di Bale Kota.

Usai menyampaikan aspirasi di Bale Kota Tasikmalaya, massa HMI berencana melanjutkan aksi ke Gedung DPRD Kota Tasikmalaya untuk menyampaikan tuntutan serupa serta meminta kehadiran para pemangku kebijakan.

“Setelah ke Bale Kota, kita akan bertolak ke Gedung Dewan Kota Tasikmalaya untuk menyampaikan aspirasi dan memanggil para pemangku kebijakan agar hadir di gedung dewan,” kata Nazmi.

Dia menambahkan, kartu kuning yang diacungkan mahasiswa merupakan simbol peringatan bagi pemerintah daerah atas kinerja yang dinilai belum optimal, termasuk persoalan kemiskinan di Kota Tasikmalaya yang disebut masih berada di peringkat tiga teratas di Jawa Barat.

“Ini bentuk kekecewaan kami dan peringatan kepada pemerintah Kota Tasikmalaya. Hari ini Tasikmalaya masih berada di posisi ketiga termiskin di Jawa Barat,” tegasnya.

Aksi berlangsung dengan pengawalan ketat aparat keamanan dan berjalan dalam situasi yang terkendali meski sempat diwarnai ketegangan di depan gerbang Bale Kota Tasikmalaya.


Editor : Doni Ramdhani