Sisi Lain Kepala BPJS Cimahi, Cecep Heri yang Konsisten Dalami Seni Cianjuran
Cecep Heri Suhendar di sela kesibukannya sebagai kepala BPJS Cimahi rupanya juga konsisten menekuni seni tradisonal Sunda Cianjuran
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kesibukan mengelola pelayanan kesehatan bagi jutaan warga di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi,tak menyurutkan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Cimahi, Cecep Heri Suhendar untuk berkarya di bidang seni.
Kecintaannya terhadap seni tradisional Sunda, khususnya Cianjuran bagi pemimpin yang telah mencatatkan segudang prestasi di bidang layanan publik ini, menekuni seni bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, melainkan jalan untuk kembali ke akar budaya.
Baginya, seni menjadi sarana untuk mengasah kepekaan batin yang menjadi bekal utama dalam mengambil keputusan strategis yang menyentuh hati masyarakat.
Keputusannya memilih Cianjuran di antara ragam seni vokal Sunda bukan tanpa alasan yang kuat. Sebagai orang asli Sunda, Cecep memandang Cianjuran sebagai mahakarya tertinggi dalam olah vokal karawitan daerah, yang menempati strata lebih tinggi dibandingkan pasindenan yang cenderung didominasi oleh suara perempuan.
Cianjuran justru bersifat universal, dapat dinyanyikan oleh laki-laki maupun perempuan, dan memiliki kedalaman artistik yang lebih kompleks.
Ketertarikan ini ternyata bersumber dari benih bakat yang sudah tertanam sejak masa muda, ketika ia pernah meraih juara ketiga lomba menembang kawih se-Jawa Barat saat masih duduk di bangku SMA.
"Satu, orang Sunda. Yang kedua, ini tuh mahakarya olah vokal karawitan Sunda, memang levelnya tertinggi. Kalau pasindenan kan lebih ke gender perempuan, tapi kalau Cianjuran bisa laki-laki, bisa perempuan," kata Cecep Jumat (26/6/2026).
Cecep mengakui tantangan terberat dalam menekuni Cianjuran tidak hanya terletak pada penguasaan teknik vokal yang luar biasa sulit, melainkan pada kemampuan menyelami jiwa dan emosi yang terkandung di dalamnya.
"Seni ini memiliki spesifikasi yang sangat terstruktur, di mana setiap nuansa perasaan, mulai dari gembira, sedih, hingga rindu dan cinta telah ditata secara apik melalui laras, tangga nada, dan susunan syair yang khas," ujarnya.
Cecep menyebut, salah satu kekhasan teknisnya yakni adanya 17 jenis ornamen musik yang disebut dongkari, yang menjadi pembeda utama sekaligus ujian ketangkasan penyanyi dalam menghidupkan setiap bait lagu.
"Bukan hanya teknis, tapi Cianjuran punya spesifikasi emosi yang sudah ditata. Ada laras, ada tangga nada, ada syair sesuai perasaan. Ada 17 ornamen musik namanya dongkari, itu yang bikin sulit sekaligus indah," ujarnya.
Lebih dari sekadar keindahan suara, Cianjuran sarat dengan muatan filosofi kehidupan yang mendalam. Cecep menuturkan, meskipun banyak lagu yang bertema cinta, makna tersirat di baliknya merupakan sebuah renungan tentang perjalanan hidup manusia.
"Bagaimana seseorang berjuang, berkarya, dan melewati berbagai fase, hingga pada akhirnya menyadari bahwa kematian adalah tujuan akhir yang dihadapi sendiri tanpa dapat diantar oleh apa pun," paparnya.
Cecep menyebut, proses mewujudkan kecintaannya ini ke dalam sebuah karya nyata ternyata berlangsung sangat padat dan intensif.
Sebab, hanya dalam waktu tiga bulan, ia berhasil menyelesaikan sebuah album kolaborasi yang unik. Kendati demikian, ia menegaskan dirinya bukanlah sosok yang egois ingin tampil sendirian.
"Dalam album tersebut, ia hanya menyumbangkan suara untuk dua lagu utama, sementara lima lagu lainnya dipercayakan kepada para penyanyi muda potensial," ungkapnya.
Cecep menilai, langkah ini diambil sebagai bentuk kontribusi nyata untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan Cianjuran kepada generasi penerus, agar seni luhur warisan leluhur tidak pudar tergerus zaman.
"Album itu berproses cuma 3 bulan. Saya cuma bawain dua lagu, sisanya saya serahkan ke artis muda. Saya bukan artis egois, saya ingin mempromosikan Cianjuran dan mengenalkannya ke para tokoh serta generasi muda," ujarnya.***
Editor : Ahmad Sayuti

