SPPG Citeureup 2 Perketat Kontrol Kualitas Usai Kasus Keracunan, Dana Rp452 Juta Diawasi Lebih Ketat
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG Citeureup 2 kini memperketat kontrol kualitas, mulai dari pemesanan bahan baku hingga proses distribusi program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG Citeureup 2 kini memperketat kontrol kualitas, mulai dari pemesanan bahan baku hingga proses distribusi program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Hal yang dilakukan SPPG Citeureup 2 itu menyusul maraknya kasus keracunan MBG di sejumlah wilayah di Jawa Barat.
"Sejak awal, bahan baku kami ambil dari koperasi yayasan. Setiap bahan yang datang ke dapur harus melewati pemeriksaan kualitas oleh ahli gizi," kata Kepala SPPG Citeureup 2 Ilham Ramadhan, Selasa 30 September 2025.
"Jika tidak memenuhi standar, otomatis tidak akan kami olah. Kami tidak main-main, karena risikonya sangat besar bagi kesehatan anak-anak," tegas Ilham.
Ilham menuturkan, proses persiapan dimulai sejak pukul 17.00 sore, meliputi pembersihan buah-buahan, sayuran, serta protein hewani dan nabati.
Selanjutnya, pengolahan makanan dimulai pukul 22.00 malam, diawali dengan briefing menu dan pengecekan ulang kualitas bahan baku.
"Tidak semua bahan bisa langsung diolah. Jika sayuran terlihat cepat membusuk atau protein hewani mengalami perubahan tekstur, langsung kami tahan. Lebih baik menunda daripada memaksakan, karena risikonya bisa menyebabkan keracunan," tambahnya.
Kemudian, tim pemorsian mulai bekerja pukul 02.00 dini hari hingga pukul 10.00 pagi untuk mencegah makanan cepat basi, mengingat jumlah produksi mencapai lebih dari 3.034 porsi setiap hari.
"Kami juga melakukan uji organoleptik, uji sampel, hingga pengecekan laboratorium internal. Semua ini dilakukan oleh ahli gizi yang memiliki gelar sarjana gizi," ujarnya.
"Setiap porsi yang akan didistribusikan wajib mendapatkan verifikasi kelayakan konsumsi," jelasnya.
Ilham menyebut, SPPG Citeureup 2 mempekerjakan 51 orang, terdiri dari 48 pegawai dapur, 1 ahli gizi, 1 staf akuntansi, dan 1 kepala unit.
Sebagian besar pekerja berasal dari masyarakat sekitar, sejalan dengan misi program MBG untuk meningkatkan gizi anak sekolah sekaligus memberdayakan ekonomi masyarakat.
"Tujuan kami bukan hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan. Kebanyakan pegawai berasal dari lingkungan sekitar dapur, sehingga membantu perputaran ekonomi lokal," kata Ilham.
Ilham tak memungkiri bahwa pengawasan yang ketat menjadi tantangan utama. Pasalnya, perhatian dari pemerintah pusat dan pengawas wilayah semakin meningkat setelah adanya kasus keracunan.
Pihaknya kini menggunakan CCTV di dapur untuk memastikan tidak ada celah kontaminasi atau kelalaian pekerja, serta berencana mewajibkan pekerja dapur untuk menjalani medical check-up lengkap.
"SPPG Citeureup 2 mengelola dana sebesar Rp452,7 juta untuk setiap periode (10 hari) yang berasal dari pemerintah pusat," bebernya.
Setiap porsi makanan, terang Ilham, dialokasikan dana Rp15.000, yang dibagi menjadi Rp10.000 untuk bahan baku, Rp3.000 untuk biaya operasional, dan Rp2.000 untuk sewa peralatan.
"Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, prioritas utama kami adalah menyelamatkan anak-anak terlebih dahulu. Setelah itu, baru dilakukan uji sampel dan uji laboratorium untuk memastikan penyebabnya," jelas Ilham.
Terkait isu penggunaan tray impor dari Cina yang diduga mengandung minyak babi, Ilham mengaku belum bisa memastikan dan akan berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk langkah selanjutnya.
"Kami di SPPG Citeureup 2 berkomitmen untuk memperketat prosedur kontrol kualitas," ucapnya.
Editor : Doni Ramdhani


