SPPG Katumiri Jawab Keamanan Pangan di Tengah Isu Keracunan Massal MBG KBB
Di tengah maraknya kasus keracunan massal yang menimpa ribuan siswa di Kabupaten Bandung Barat (KBB), para pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terus melakukan peningkatan kualitas proses produksi menu makan bergizi gratis (MBG).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Di tengah maraknya kasus keracunan massal yang menimpa ribuan siswa di Kabupaten Bandung Barat (KBB), para pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terus melakukan peningkatan kualitas proses produksi menu makan bergizi gratis (MBG).
Salah satunya SPPG Katumiri di Desa Cihanjuang, Kecamatan Parongpong yang berkomitmen untuk menjaga standar higienitas dan keamanan pangan.
Kepala Dapur SPPG Katumiri Muhammad Rizal mengatakan, dapur ini baru berjalan kurang dari seminggu. Meski begitu, pihaknya mengklaim telah menunjukkan keseriusan dalam menjaga kualitas bahan makanan, kebersihan, dan kandungan gizi setiap hidangan yang disajikan.
Menurutnya, setiap tahapan produksi diawasi dengan ketat. Mulai dari pemilihan bahan baku, pencucian, pemotongan, pengolahan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah TK, semuanya dilakukan secara berjenjang.
"Bahan baku yang datang akan kami timbang, cocokkan dengan data, lalu dicuci di ruang khusus sesuai jenisnya. Ada area berbeda untuk beras, daging, sayuran, dan buah," kata Rizal, Kamis 9 Oktober 2025.
Rizal menjelaskan, proses memasak dimulai dini hari pukul 00.30, diikuti dengan pemorsian pukul 04.30, dan pendistribusian pada pukul 07.00 pagi.
"Makanan dikemas dalam wadah higienis dan dijaga suhunya agar tetap layak konsumsi saat sampai di sekolah," jelasnya.
Dapur ini, sebut Rizal, menjunjung tinggi prinsip zero accident. Semua relawan wajib mengenakan alat pelindung diri (APD), dan bahan yang tidak memenuhi standar langsung dikembalikan ke pemasok.
Peralatan seperti ompreng dicuci melalui empat tahap, yakni pelarutan lemak dengan air panas, pencucian dengan sabun khusus, pembilasan empat kali, dan pengeringan steril.
"Setiap wadah diperiksa ulang sebelum digunakan kembali," tegasnya.
Ahli gizi dapur MBG, Fatia menjelaskan bahwa menu disusun berdasarkan panduan Badan Gizi Nasional (BGN) dan disesuaikan dengan kebutuhan usia. Untuk anak TK, rata-rata kebutuhan energi mencapai 300 kilokalori per porsi.
"Tantangan terbesarnya adalah membuat makanan sehat terasa enak bagi anak-anak TK yang cenderung suka rasa manis dan gurih," ujar Fatia.
Untuk itu, ia menciptakan menu menarik seperti nasi goreng sayur, bola-bola tahu dengan campuran sayur, dan buah segar sebagai sumber serat.
"Kalau sayur tidak termakan, setidaknya dari buah mereka tetap dapat gizi seimbang," tambahnya.
Fatia juga menegaskan bahwa semua bahan, mulai dari susu, telur, hingga buah, harus melalui pemeriksaan ketat.
"Pernah ada buah melon jelek, langsung kami foto dan retur ke vendor. Semua bahan wajib layak konsumsi," ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Yayasan, Bebi Purnomo menambahkan bahwa dapur MBG juga peduli pada lingkungan. Limbah cair dialirkan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan empat tahap penyaringan, dan dapur menggunakan gas Compressed Natural Gas (CNG) yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
"CNG menghasilkan pembakaran maksimal dan aman. Sistem dapur kami juga punya deteksi kebocoran otomatis," ujarnya.
Lebih dari sekadar dapur, program MBG juga menjadi sarana pemerataan ekonomi lokal. "Relawan dan supplier sebagian besar warga sekitar. Ada delapan UMKM lokal yang kini jadi pemasok bahan utama," kata Bebi.
Meski baru beroperasi, dapur MBG sudah menyiapkan sertifikasi higiene dan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) agar memenuhi standar nasional.
"Kami sedang memproses sertifikasi bangunan dan tenaga kerja. Semua agar dapur ini menjadi model dapur sehat berkelanjutan di Indonesia," tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani

