Stunting Bandung tak Hanya Soal Gizi
Selama ini, stunting kerap dipandang sebagai persoalan kurang makan. Ketika seorang anak tumbuh tidak sesuai usianya,yang pertama kali disorot
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Selama ini, stunting kerap dipandang sebagai persoalan kurang makan. Ketika seorang anak tumbuh tidak sesuai usianya, yang pertama kali disorot biasanya adalah asupan gizi. Padahal, di balik tubuh yang gagal berkembang, ada persoalan lain yang sering luput dari perhatian.
Air yang tercemar, sanitasi yang buruk, hingga lingkungan yang tidak sehat dapat menjadi mata rantai yang sama kuatnya dalam menyebabkan stunting. Itulah sebabnya Pemerintah Kota Bandung kini mulai mengubah cara pandang dalam menangani persoalan tersebut.
Oleh: Yogo Triastopo
Melalui program Bandung Utama Goes to Zero New Stunting, penanganan stunting tidak lagi hanya berpusat pada makanan tambahan atau pemberian ASI, tetapi juga menyasar akar persoalan yang memengaruhi kesehatan anak sejak awal kehidupannya.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan, stunting merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kekurangan gizi.
"Stunting bukan hanya masalah ASI atau pemberian makanan tambahan. Ini persoalan yang sangat sistemik. Kalau kita ingin menurunkan angka stunting, maka yang harus kita benahi bukan hanya gizinya, tetapi juga lingkungan, sanitasi, kualitas air dan seluruh faktor yang memengaruhinya," ujarnya, Selasa (21/7).
Cara pandang itu lahir dari kenyataan bahwa prevalensi stunting di Kota Bandung masih cukup tinggi. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angkanya mencapai 22,8 persen, masih berada di atas target nasional sebesar 16 persen.
Bagi Farhan, persoalan itu tidak bisa diselesaikan jika pemerintah hanya sibuk mencari pembenaran. Langkah pertama justru harus dimulai dengan mengakui, masalah tersebut memang ada.
"Kalau kita menyangkal kita sedang bermasalah, maka masalah itu akan semakin jauh dari solusi. Kita harus berani mengakui kondisi ini agar bisa mencari jalan keluarnya bersama," katanya.
Menariknya, menurut Farhan, Kota Bandung sebenarnya tidak mengalami persoalan dalam hal pasokan pangan. Sebagai kota perdagangan dan jasa, berbagai kebutuhan pangan terus mengalir dari banyak daerah di Indonesia.
Karena itu, dia menilai penyebab stunting kemungkinan besar tidak berhenti pada urusan makanan.
"Kalau soal suplai makanan, Kota Bandung tidak ada masalah sama sekali. Jadi jangan-jangan persoalannya bukan semata-mata gizi. Ada faktor-faktor lain yang harus kita selesaikan bersama," ujarnya.
Salah satu yang kini menjadi perhatian adalah kondisi sanitasi. Data pemerintah menunjukkan sekitar 27 persen rumah tangga di Kota Bandung belum memiliki septic tank yang layak, sehingga masih berpotensi melakukan buang air besar sembarangan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang pada akhirnya mengganggu tumbuh kembang anak.
Karena itulah, penanganan stunting tidak lagi menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan semata. Pemkot Bandung ingin seluruh organisasi perangkat daerah terlibat, mulai dari kecamatan hingga kelurahan, untuk memetakan persoalan sesuai kondisi wilayah masing-masing.
Upaya lain juga dilakukan melalui penguatan Dapur Dahshat di setiap kelurahan. Program ini diharapkan mampu menyediakan makanan bergizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang membutuhkan. (gin)
Editor : Inilahkoran

