Survei: 68,3 Persen Mahasiswa Unpad Inginkan Kuliah Tatap Muka

Direktorat Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni Universitas Padjadjaran (Unpad) menggelar survei mengenai seberapa besar keinginan mahasiswa Unpad untuk kembali berkegiatan di kampus.

Survei: 68,3 Persen Mahasiswa Unpad Inginkan Kuliah Tatap Muka

INILAH, Bandung - Direktorat Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni Universitas Padjadjaran (Unpad) menggelar survei mengenai seberapa besar keinginan mahasiswa Unpad untuk kembali berkegiatan di kampus.

Tujuan survei ini ingin mengetahui seberapa besar antusiasme mahasiswa untuk berkunjung ke kampus. Survei ini juga dilakukan guna menunjang Unpad menuju pembelajaran hybrid,

Direktur Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni Unpad, Boy Yoseph Cahya Sunan Sakti Syah Alam, mengatakan, survei yang digelar secara daring ini diikuti oleh 1.857 responden dari mahasiswa Unpad. Dari hasil pengumpulan data, sebanyak 77,7 persen responden memiliki keinginan untuk berkunjung ke kampus.

Selain itu, sebanyak 68,3 persen responden menginginkan untuk melakukan Kuliah tatap muka, sedangkan 14,9 persen responden lebih memilih Kuliah daring.

“Kalau dilihat mahasiswa kebanyakan sudah ingin masuk ke kampus dan sudah mulai jenuh dengan Kuliah online,” kata Boy, melalui siaran pers, Rabu (2/6/2021).

Hal ini terlihat dari hasil poling mengenai lokasi di kampus yang ingin dikunjungi mahasiswa. Sebanyak 37,8 persen responden menginginkan mengunjungi ruang kelas, sedangkan 22,5 persen memiliki keinginan mengunjungi kantin kampus dan 17,9 persen menginginkan untuk mengunjungi perpustakaan.

Lebih lanjut Boy menjelaskan, hasil survei ini akan menjadi pertimbangan bagi Unpad untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis hybrid. Rencananya, Unpad akan membuka kampus dengan terbatas mulai semester ganjil 2021/2022 pada Agustus mendatang.

Guna menunjang pembukaan aktivitas kampus secara terbatas, pihaknya bersama Satuan Tugas Covid-19 Unpad menyiapkan protokol kesehatan yang ketat untuk aktivitas belajar di kelas maupun praktikum.

“Dengan adanya hybrid learning ini, kita akan atur secara ketat kegiatan pembelajaran dan kemahasiswaan di dalam kampus,” ujar Boy.

Selain itu, Rektor Unpad, Rina Indiastuti menjelaskan, tahap pertama dalam peta jalan Unpad menuju Hybrid University adalah penerapan pembelajaran hybrid.

“Kita sedang menyongsong masa depan, digitalisasi di mana-mana. Dalam rangka mengadopsi teknologi informasi, maka Unpad masa depan akan diselenggarakan dengan cara hybrid,” kata Rina.

Dia menjelaskan, meski pembelajaran daring yang sudah dilakukan Unpad dalam setahun terakhir sudah optimal, mahasiswa tetap merasa bahwa ada kapasitas yang tidak bisa disalurkan hanya lewat daring.

Karena itu, melalui model pembelajaran hybrid, Unpad akan membuka kegiatan pembelajaran tatap muka di dalam kampus secara terbatas. Dengan model ini, pembelajaran akan dilakukan melalui kombinasi tatap muka dengan daring.

Rektor menjelaskan, ada sejumlah kriteria yang ditetapkan untuk membuka kegiatan pembelajaran tatap muka. Kesediaan dosen pengampu, urgensi mata Kuliah yang memerlukan kegiatan tatap muka, hingga kesediaan mahasiswa, kondisi kesehatan mahasiswa, dan izin orang tua menjadi beberapa kriteria yang ditetapkan sebelum menggelar pembelajaran tatap muka.

“Untuk mahasiswa dari luar kota dibolehkan selama kompetensi mata kuliahnya tidak bisa ditinggalkan, kemudian sehat dan ada izin orang tua,” kata Rektor.

Intinya, kata dia, pembelajaran tatap muka diutamakan bagi mata Kuliah yang memerlukan capaian kompetensi praktis, teknik, hingga karakteristik kepribadian mahasiswa.

“Kalau lainnya bisa dilakukan daring, maka daring saja,” katanya.

Persiapan selanjutnya mengecek infrastruktur. Infrastruktur ini akan mendukung proses pembelajaran hybrid optimal dilakukan. Selain infrastruktur pembelajaran, Unpad juga sudah menyiapkan fasilitas yang mendukung penerapan protokol kesehatan, di antaranya penyediaan sarana cuci tangan hingga rambu-rambu protokol kesehatan.

Rina menegaskan, pembukaan kegiatan pembelajaran tatap muka Agustus nanti tidak akan menyebabkan kerumunan yang signifikan. Unpad tetap membatasi jumlah mahasiswa yang beraktivitas di dalam kampus.

“Contohnya ada kelas yang ingin menerapkan sebagian luring dan daring. Maka jadi tadinya dalam satu kelas ada 50 mahasiswa, maka yang datang luring maksimum 50 persen. Serta tidak semua sesi mata Kuliah dilakukan di kampus. Hanya 2-3 sesi saja dilakukan di kampus,” katanya.

Selain itu, tidak semua ruang kelas dan laboratorium akan digunakan untuk pembelajaran tatap muka. Rektor mengatakan, Unpad akan menyeleksi ruangan dan laboratorium yang cocok digunakan untuk pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan ketat.

“Sebisa mungkin ruangan tanpa AC dan udara terbuka/tersirkulasi. Karena itu, tidak semua kelas akan kita fungsikan, kita akan pilih kelas-kelas yang memenuhi persyaratan,” imbuh Rina. (Okky Adiana)
 


Editor : Bsafaat