Susah Suruh Anak Makan Sayur? Ini 6 Trik Berbasis Sains yang Bisa Dicoba Orang Tua

Berbagai sains ilmiah membocorkan trik agar anak mau makan sayuran untuk kebutuhan serat tubuhnya

Susah Suruh Anak Makan Sayur? Ini 6 Trik Berbasis Sains yang Bisa Dicoba Orang Tua
6 trik agar anak mau memakan sayuran bagi orang tua. Foto ilustrasi net

INILAHKORAN.ID - Membiasakan anak untuk mengonsumsi cukup sayuran merupakan salah satu tantangan paling umum yang dihadapi orang tua. 

Banyak orang tua kerap bertanya-tanya, apakah normal jika anak-anak mereka cenderung lebih menyukai makanan manis? Jawabannya sangat mudah. 

Seperti dilansir dari BBC, secara alami indra pengecap anak-anak memang lebih menyukai rasa manis sejak dini—bahkan Air Susu Ibu (ASI) pun memiliki cita rasa dasar yang manis. 

Oleh karena itu, ketika memasuki fase Makanan Pendamping ASI (MPASI) atau makanan padat, membujuk mereka mengunyah sebatang brokoli atau sesendok bayam sering kali berujung menjadi 'perjuangan' tersendiri.

Padahal, asupan buah dan sayur yang bervariasi sangat krusial bagi tumbuh kembang. Pola makan yang kurang gizi tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi daya ingat, konsentrasi, perilaku, hingga prestasi akademis anak. Di sisi lain, tren peningkatan angka obesitas anak membawa risiko kesehatan jangka panjang yang patut diwaspadai.

Berdasarkan berbagai penelitian ilmiah, berikut adalah 6 trik sederhana yang dapat Anda terapkan di rumah untuk melatih kebiasaan makan sehat pada si kecil:

1. Kenalkan Sejak Dini dan Sesering Mungkin
Mengenalkan berbagai jenis sayuran sedini mungkin secara konsisten adalah langkah awal yang utama. Marion Hetherington, profesor biopsikologi dari University of Leeds, Inggris, menyebutkan bahwa usia prasekolah merupakan masa emas (golden age) untuk membentuk kesukaan anak terhadap sayuran.

Dibutuhkan paparan sekitar 5 hingga 15 kali pengenalan agar anak mulai familiar dengan rasa baru, tergantung karakter masing-masing. Menariknya, bayi di bawah usia satu tahun justru lebih mudah menerima variasi rasa dibandingkan anak usia 3–4 tahun yang mulai memasuki fase food neophobia (rasa takut atau enggan mencoba makanan asing).

Bahkan, proses ini dapat dimulai sejak masa kehamilan. Apa yang dikonsumsi ibu hamil akan tersalurkan melalui cairan ketuban dan turut membentuk preferensi rasa pada bayi sejak dalam kandungan.

2. Sajikan Sayur di Awal Waktu Makan
Alih-alih terus menasihati anak bahwa sayur itu "sehat"—yang justru sering memicu penolakan—cobalah mengatur urutan penyajiannya.

Menyajikan sayuran di awal waktu makan saat perut anak sedang lapar terbukti meningkatkan peluang sayur tersebut dihabiskan. Sebaliknya, jika sayur disajikan bersamaan dengan makanan yang lebih tinggi kalori atau berflavor gurih, anak cenderung akan menghabiskan makanan favoritnya terlebih dahulu dan membiarkan sayurannya tersisa.

Strategi ini juga efektif mencegah anak makan berlebihan. Anda juga bisa menyisipkan sayur pada menu sarapan—seperti mencampurkan jamur dan bayam ke dalam telur dadar, atau memasukkan parutan labu siam (zucchini) ke dalam adonan kue/muffin.

3. Atur Ulang Rasio Porsi di Atas Piring
Jika menyajikan sayur di awal waktu makan terasa sulit, Anda bisa mencoba trik penyesuaian rasio porsi. Kurangi porsi bahan tinggi kalori dan tambahkan porsi sayurannya.

Cara ini dapat dilakukan dengan memperbanyak porsi sayur sebagai hidangan pendamping, atau 'menyamarkannya' dengan memarut wortel dan labu ke dalam saus olahan.

Penelitian membuktikan bahwa orang cenderung mengonsumsi volume makanan yang sama meskipun rasio daging dan sayurnya diubah. Menambah porsi buah dan sayur hingga 50% di piring anak terbukti efektif meningkatkan jumlah yang mereka makan. Selain itu, menyediakan beberapa pilihan jenis sayur sekaligus dapat mendorong anak prasekolah makan lebih banyak sayuran.

4. Buat Tampilan Makanan Lebih Menarik
Mata adalah pintu utama selera makan. Saat dihadapkan pada beberapa pilihan, anak-anak secara alami akan memilih makanan yang terlihat menarik dan familiar.

Menata makanan dengan kreasi bentuk yang unik—seperti memotong buah dan sayur menyerupai bentuk kupu-kupu, bunga, atau beruang—dapat memicu rasa penasaran anak untuk mencobanya.

Selain bentuk, wadah penyajian juga berpengaruh besar. Penggunaan piring sekat (divided plate) diketahui mampu meningkatkan konsumsi sayur pada anak prasekolah hingga 36%. Begitu pula dengan menempatkan camilan sayur potong di wadah transparan yang mudah dijangkau, yang terbukti mendorong anak usia 10–13 tahun untuk mengambil opsi sehat tersebut secara mandiri.

5. Jadikan Momen Makan Bersama Sebagai Teladan
Anak adalah peniru yang ulung. Jika orang tua gemar mengonsumsi camilan kurang sehat, sering makan makanan cepat saji, atau melewatkan sarapan, anak kemungkinan besar akan meniru pola tersebut.

Sebaliknya, studi menunjukkan bahwa anak-anak yang orang tuanya menerapkan pola makan sehat cenderung lebih menikmati buah dan sayur serta mengurangi konsumsi jajanan manis atau gurih berlebih.

Makan bersama keluarga setidaknya tiga kali seminggu berhubungan erat dengan berat badan anak yang lebih ideal, pola makan yang lebih teratur, dan tingkat kebugaran yang lebih baik.

6. Ajak Anak "Bermain" dan Mengenal Bahan Makanan
Memaksa anak menghabiskan makanan justru berisiko memicu trauma dan menurunkan kenikmatan makan mereka. Begitu pula memberi iming-iming "hadiah" berupa makanan manis jika mereka mau makan sayur, yang malah membuat makanan manis terasa jauh lebih istimewa.

Pendekatan yang lebih efektif adalah mengajak anak mengenali bahan makanan tanpa tekanan. Biarkan anak menyentuh, mencium, dan mengamati bentuk bahan makanan seperti bit, kacang arab, atau pakcoy tanpa kewajiban untuk memakannya saat itu juga. 
Ketika tekanan dihilangkan, rasa takut (neophobia) anak akan berkurang dan mereka menjadi jauh lebih terbuka untuk mencobanya di kemudian hari.


Editor : Ahmad Sayuti