Tahun Ini, Distanhorbun Kab Bogor Rekrut 40 Penyuluh Pertanian Swadaya

Untuk menutupi kekurangan tenaga penyuluh pertanian yang memasuki masa pensiun, Dinas Pertanian, Holtikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor merekrut 40 penyuluh pertanian swadaya.

Tahun Ini, Distanhorbun Kab Bogor Rekrut 40 Penyuluh Pertanian Swadaya
Kepala Distanhorbun Kabupaten Bogor Siti Nuriyanti. (reza zurifwan)

INILAH, Bogor - Untuk menutupi kekurangan tenaga penyuluh pertanian yang memasuki masa pensiun, Dinas Pertanian, Holtikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor merekrut 40 penyuluh pertanian swadaya.

Saat ini jumlah tenaga penyuluh pertanian yang notabenenya Aparatur Sipil Negara (ASN) tinggal 80 orang, mereka dibantu 160 penyuluh pertanian swadaya harus menjangkau ke 418 desa di 40 kecamatan di Bumi Tegar Beriman.

"Jumlah penyuluh pertanian terus berkurang 10 - 15 orang pertahun dan untuk menutupi kebutuhan tenaga penyuluh, tahun 2019 ini kami merekrut 40 penyuluh pertanian swadaya. Tahun ini jumlah personil penyuluh pertanian ada 80 sementara penyuluh pertanian swadaya jumlah personilnya ada 200 orang," ucap Kepala Distanhorbun Kabupaten Bogor Siti Nuriyanti ketika dihubungi wartawan, Kamis (28/11).

Dia menerangkan karena total jumlah 280 personil penyuluh pertanian dan penyuluh pertanian swadaya ini terbilang kurang, setiap personil penyuluh harus 'memegang' dua bahkan tiga desa.

"Kalau desanya potensi lahan pertaniannya banyak paling satu penyuluh pertanian cakupan kerjanya di dua desa, tetapi kalau potensi lahan pertaniannya tidak banyak satu penyuluh cakupan kerjanya di tiga desa yang wilayahnya berdekatan," terangnya.

Nuriyanti berharap karena tidak bisa terus memporsir tenaga penyuluh, kedepan akan ada tambahan jatah perekrutan tenaga penyuluh pertanian swadaya maupun penerimaan Calon Pengawai Negeri Sipil (CPNS) menjadi PNS

"Idealnya penyuluh pertanian maupun penyuluh pertanian itu paling luas cakupan kerjanya hanya di satu desa hingga busa maksimal dalam meningkatkan produksi maupun kualitas produk pertanian; holtikultura maupun perkebunan," harap Nuriyanti.

Ia melanjutkan masih banyaknya desa yang minim sinyal internet juga menjadi kendala para personil penyuluh pertanian, di desa yang tidak idak ada sinyal mereka pun terpaksa memberikan materi penyukuhan secara manual.

"Kita kan sebenarnya sudah menggunakan aplikasi penyuluhan pertanian yang online, tapi di desa yang tidak ada sinyal internet penyuluh pun memberikan materi pelatihan pertanian secara manual. Karena tidak ada sinyal internet, penggunaan kartu tani pun juga dilakukan secara manual hingga menambah pekerjaan. Semoga kedepan tidak ada lagi desa yang tertinggal informasi karena ketiadaan sinyal internet," lanjutnya. (Reza Zurifwan)

 


Editor : Bsafaat