Talangi e-Tol Berbulan-bulan, Uang Sopir Truk Sampah Kabupaten Bandung Tak Kunjung Diganti 

Para sopir truk sampah di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung mengeluhkan minimmya peralatan atau fasilitas untuk menunjang pekerjaan mereka. Bahkan, untuk e-tol pun mereka  harus merogoh kocek sendiri dulu sebelum diklaimkan ketempat mereka bekerja.

Talangi e-Tol Berbulan-bulan, Uang Sopir Truk Sampah Kabupaten Bandung Tak Kunjung Diganti 
Salah seorang sopir truk sampah milik Pemerintahan Kabupaten Bandung yang enggan disebutkan namanya mengatakan, kondisi ini sudah berlansung bertahun-tahun. Mereka terpaksa mengeluarkan uang sendiri untuk membeli peralatan kerja seperti keranjang, gacok, tali ramba dan terpal. (ilustrasi/dok)

INILAHKORAN, Soreng - Para sopir truk sampah di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung mengeluhkan minimmya peralatan atau fasilitas untuk menunjang pekerjaan mereka. Bahkan, untuk e-tol pun mereka  harus merogoh kocek sendiri dulu sebelum diklaimkan ke tempat mereka bekerja.

Salah seorang sopir truk sampah milik Pemerintahan Kabupaten Bandung yang enggan disebutkan namanya mengatakan, kondisi ini sudah berlansung bertahun-tahun. Mereka terpaksa mengeluarkan uang sendiri untuk membeli peralatan kerja seperti keranjang, gacok, tali ramba dan terpal.

"Sudah lama Dinas Lingkungan Hidup tidak memberikan kami fasilitas kerja. Yah terpaksa membeli sendiri, bahkan untuk uang e-tol saja harus pakai uang kami dulu dan sudah beberapa bulan ini belum ada penggantian uang kami," katanya di Soreang, Rabu 13 Agustus 2025.

Menurutnya, masing-masing UPTD berbeda-beda. Paling lama, uang e-tol yang belum diganti sejak enam bulan lalu. Setiap hari, para sopir harus mengeluarkan uang untuk e tol sampai puluhan ribu puluh rupiah. Tergantung daerahnya. Tertinggi adalah wilayah soreang yang harus melewati Tol Soroja.

"Kalau sopir dari Soreang, setiap hari harus menalangi uang tol Rp45.000. Dari soreang ke Padalarang itu Rp22.500, bolak-balik jadi Rp45.000," ujarnya.

Kata dia, jika hanya satu atau dua hari tidak akan menjadi masalah. Namun mereka harus mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk menalangi uang tol.

"Ini sudah berbulan-bulan. Jumlahkan saja kalau 6 bulan harus nalangi uang e-tol, jadi berapa juta,"katanya.

Kondisi tersebut membuat mereka geram. Beberapa hari lalu mereka melakukan mogok kerja, karen uang untuk e-tol tidak kunjung dibayar.

"Beberapa hari lalu ada penggantian, tapi hanya untuk 2 bulan. Nah yang bulan-bulan sebelumnya bagaimana, belum tahu kapan dibayarnya?," ujarnya.

Mereka juga merasa khawatir beberapa bulan kedepan harus mengeluarkan uang sendiri untuk menalangi e-tol.

"Kemarin juga sisanya kan belum dibayar. Terus kedepannya bagaimana, harus nalangi lagi," katanya.

Ia berharap Pemerintahan Kabupaten Bandung segera membayarkan sisa uang e-tol yang ditalangi sopir, juga ke depannya ada  perbaikan sistem. Sehingga, par sopir yang telah bekerja melayani masyarakat ini tidak dibebani oleh masalah keuangan yang seharusnya memang tanggungjawab Pemerintahan Kabupaten Bandung.

"Kami ini bekerja untuk pemerintah. Tapi kok begini amat yah, seolah tenaga dan pekerjaan kami ini tidak ada artinya," ujarnya.


Editor : Doni Ramdhani