Tertimbun Lumpur Dua Meter, Pesantren di Aceh Bersihkan Pakai Dana Pribadi
Pesantren di Aceh bersihkan lumpur setinggi dua meter pakai dana pribadi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pesantren Al Bayan, yang berlokasi di Gampong Mayang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, terpaksa melakukan pengerukan lumpur sisa banjir bandang dengan menggunakan biaya sendiri.
Koordinator Kebencanaan Pesantren Al Bayan, Meurah Johan, mengatakan timbunan lumpur yang menutup seluruh bangunan pesantren harus segera dibersihkan agar aktivitas pendidikan dapat kembali berjalan.
“Kami terpaksa mengeruk lumpur banjir bandang menggunakan dana mandiri karena kondisi sudah mendesak,” ujarnya, Senin (15/12).
Pesantren Al Bayan berada tidak jauh dari Jembatan Meureudu yang sempat terputus akibat banjir bandang pada akhir November 2025 lalu. Saat ini, jembatan tersebut telah kembali bisa dilalui kendaraan.
Banjir bandang yang dipicu meluapnya Krueng Meureudu menyebabkan seluruh kompleks pesantren tertimbun lumpur dengan ketebalan mencapai satu hingga dua meter lebih. Untuk membersihkannya, pihak pesantren menggunakan ekskavator berukuran kecil yang dipinjam dari dinas di Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya.
Meski alat berat dipinjamkan, seluruh biaya operasional, termasuk bahan bakar minyak, harus ditanggung sendiri oleh pihak pesantren. “Biaya operasional paling sedikit mencapai Rp1 juta per hari,” kata Meurah Johan.
Pada tahap awal, pengerukan difokuskan pada sumur bor pesantren yang tertimbun lumpur hingga kedalaman sekitar dua meter. Sumur tersebut dinilai sangat penting karena akan difungsikan kembali sebagai sumber air bersih, tidak hanya untuk pesantren, tetapi juga bagi warga sekitar yang masih berada di pengungsian.
“Air bersih menjadi kebutuhan mendesak bagi korban banjir. Karena itu, kami prioritaskan mengaktifkan kembali sumur bor,” ujarnya.
Setelah area sumur selesai, pengerukan akan dilanjutkan ke bangunan utama pesantren yang rencananya akan difungsikan kembali sebagai mushalla dan tempat mengaji santri.
Meurah Johan menyebutkan, Pesantren Al Bayan memiliki 139 santri. Saat banjir bandang terjadi, terdapat empat santri dan enam guru yang tinggal di lingkungan pesantren. Akibat kondisi bangunan yang masih tertimbun lumpur, aktivitas belajar mengajar terpaksa dihentikan sementara.
“Dengan kondisi seperti ini, proses pendidikan belum bisa berjalan. Kami berharap ada bantuan pemerintah untuk mengeruk lumpur banjir bandang yang tingginya mencapai lebih dari dua meter,” katanya.
Editor : Firda Rachmawati

