The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75 Persen, Pertama Kali Sejak 2023

The Fed menaikkan suku bunga AS 25 basis poin menjadi 3,75-4 persen pada September 2026, pertama kali sejak 2023 di tengah inflasi tinggi.

The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75 Persen, Pertama Kali Sejak 2023
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID – Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) menaikkan Suku Bunga acuan sebesar 0,25 poin persentase pada Rabu (16/9/2026). Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak 2023 dan dilakukan ketika Inflasi AS masih berada di atas target.

Dalam keputusan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), target Suku Bunga federal funds dinaikkan menjadi 3,75 hingga 4 persen. Keputusan tersebut disetujui secara bulat dengan suara 12-0.

Kenaikan Suku Bunga terjadi di tengah tekanan Inflasi yang masih tinggi, termasuk dampak kenaikan harga energi di tengah konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Reuters melaporkan lonjakan harga minyak menjadi salah satu faktor yang meningkatkan tekanan Inflasi di AS.

Dalam pernyataannya, FOMC menyebut aktivitas Ekonomi AS masih tumbuh dengan kecepatan solid. Pengeluaran domestik juga dinilai tetap tangguh, sementara pertumbuhan produktivitas dan investasi modal berada pada tingkat yang kuat.

Inflasi masih tinggi. Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya Inflasi secara lebih tepat waktu menuju target 2 persen,” demikian pernyataan FOMC.

The Fed Masih Buka Peluang Kenaikan

Proyeksi terbaru para pejabat The Fed juga menunjukkan kemungkinan berlanjutnya kenaikan Suku Bunga tahun ini.

Menurut data proyeksi September, 16 dari 18 pejabat FOMC memperkirakan setidaknya satu kenaikan Suku Bunga lagi pada 2026. Proyeksi tersebut menunjukkan perubahan arah kebijakan dibanding ekspektasi sebelumnya yang mengarah pada penurunan Suku Bunga.

Dengan keputusan terbaru tersebut, The Fed kini berada pada posisi yang lebih ketat dalam merespons Inflasi yang belum kembali ke target 2 persen.

Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan bank sentral saat ini memberikan perhatian besar pada stabilitas harga. Ia menilai Inflasi masih terlalu tinggi dan belum menunjukkan perbaikan mendasar yang cukup kuat.

“Fakta sederhananya adalah Inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama,” kata Warsh dalam konferensi pers setelah keputusan Suku Bunga.

Menurut Warsh, stabilitas harga merupakan fondasi pertumbuhan ekonomi. Ia juga mengatakan kenaikan Suku Bunga kali ini merupakan langkah penting untuk mengembalikan stabilitas harga.

Dampak bagi Konsumen AS

Kenaikan Suku Bunga The Fed dapat meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen. Dampaknya dapat dirasakan melalui kenaikan biaya hipotek, kredit kendaraan, kartu kredit, serta berbagai jenis pembiayaan lainnya.

Keputusan tersebut juga berpotensi menimbulkan perbedaan pandangan dengan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya berulang kali menyerukan Suku Bunga yang lebih rendah.

Setelah keputusan The Fed diumumkan, Trump kembali menyerukan agar Suku Bunga AS berada di level 1 persen atau lebih rendah.

Meski demikian, The Fed mempertahankan fokusnya pada mandat stabilitas harga dan kondisi pasar tenaga kerja dalam menentukan kebijakan moneter.

Keputusan September tersebut menjadi pertemuan ketiga yang dipimpin Kevin Warsh sejak menggantikan Jerome Powell sebagai ketua The Fed. Pertemuan kebijakan berikutnya dijadwalkan pada Oktober dan Desember 2026.***


Editor : JakaPermana