Tiga dari Puluhan Korban Keracunan Kupat Tahu di Saguling Dirujuk ke Dua Rumah Sakit Ini

Puskesmas Saguling merujuk tiga korban keracunan kupat tahu yang dibeli di Pasar Maroko agar bisa mendapatkan penanganan medis yang lebih intensif.

Tiga dari Puluhan Korban Keracunan Kupat Tahu di Saguling Dirujuk ke Dua Rumah Sakit Ini
Hal itu dilakukan lantaran dua dari tiga korban keracunan kupat tahu itu merupakan ibu hamil. Sedang satu orang lainnya merupakan lansia dengan penyakit komorbid atau penyerta sesak nafas. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Puskesmas Saguling merujuk tiga korban keracunan kupat tahu yang dibeli di Pasar Maroko agar bisa mendapatkan penanganan medis yang lebih intensif.

Hal itu dilakukan lantaran dua dari tiga korban keracunan kupat tahu itu merupakan ibu hamil. Sedang satu orang lainnya merupakan lansia dengan penyakit komorbid atau penyerta sesak nafas.

"Kita rujuk tiga pasien korban keracunan kupat tahu ke RSCK dan RS Kartini," kata Kepala Puskesmas Saguling Burhan, Senin 22 Juli 2024.

"Ketiga pasien ini perlu penanganan pasien faskes tingkat dua karena ibu hamil dan lansia usia 80 tahun dengan penyakit penyerta asma," sambungnya.

Burhan menjelaskan, warga Saguling memang rutin pergi ke Pasar Maroko Cihampelas dan berbelanja kebutuhan pokok setiap hari Jumat.

"Nah, usai belanja biasanya, warga beli kupat tahu langganan dan sebagian dibawa pulang. Cuma mungkin jarak antara waktu beli dan konsumsi panjang, sehingga santan kupat tahu jadi basi," katanya.

Burhan menyebut, ada 22 orang warga menderita keracunan kupat tahu. Dari jumlah itu, sebanyak 12 pasien telah dipulangkan, 2 orang rawat jalan, 5 orang dirawat di Puskesmas, dan 3 pasien dirujuk. 

"Kondisi pasien yang masih dirawat juga mulai mengalami perbaikan. Saat ini mereka masih menjalani masa pemulihan," sebutnya.

Kemudian, guna menyelidiki penyebab keracunan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Puskesmas Cihampelas lantaran lokasi tempat makanan yang dikonsumsi warga berada di wilayah Puskesmas Cihampelas. 

Saat ini, petugas sudah mengambil sampel makanan untuk dicek di laboratorium dengan metode kandungan mikrobiologi serta toksikologi. 

"Kemarin kita langsung koordinasi dengan Puskesmas Cihampelas karena lokasi penjual kupat tahu ada di sana. Intinya sampel yang dikirim berupa satu porsi kupat tahu dan air yang dipakai untuk mengolah makanan," ujarnya.

"Sampelnya sudah dikirim ke Labkesda Jabar dan hasilnya keluar antara 7-10 hari," sebutnya.


Editor : Doni Ramdhani