Tindaklanjuti Arahan BGN, Labkesda KBB Ingatkan Seluruh SPPG Pasang Filter Air dan UV

Labkesda Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengingatkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG di wilayahnya untuk memasang filter air dan sinar ultraviolet atau UV.

Tindaklanjuti Arahan BGN, Labkesda KBB Ingatkan Seluruh SPPG Pasang Filter Air dan UV

INILAHKORAN, Ngamprah - Labkesda Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengingatkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG di wilayahnya untuk memasang filter air dan sinar ultraviolet atau UV.
 
Langkah tersebut dilakukan sebagai tindaklanjut arahan Badan Gizi Nasional atau BGN yang mengamanatkan seluruh SPPG diwajibkan memasang filter air dan ultraviolet (UV) untuk membunuh bakteri.

Termasuk, penggunaan air minum untuk keperluan memasak dan air bersih hanya untuk mencuci bahan-bahan MBG.

"UV ini berfungsi untuk membunuh bakteri dan kuman menggunakan ultraviolet,"kata Koordinator Labkesda Bandung Barat, Sudarsono, Selasa 11 November 2025.
 
Sudarsono juga menanggapi pernyataan BGN terkait penggunaan air bersertifikat dalam program MBG

Menurutnya, air bersertifikat yang dimaksud mungkin adalah air minum kemasan yang telah memiliki sertifikat SNI dari BPOM.
 
"Untuk memasak, sebaiknya menggunakan air yang standar air minum, seperti air kemasan atau air galon. Sedangkan untuk mencuci, air bersih masih bisa digunakan," tambahnya.
 
Sudarsono menegaskan bahwa hasil uji air di Bandung Barat menunjukkan adanya E. Coli pada air bersih di keran A dan B dalam kasus keracunan di Lembang. 

Setelah temuan tersebut, upaya perbaikan telah dilakukan dengan pemasangan UV.
 
"Semua SPPG di Bandung Barat wajib menggunakan filter dan UV untuk membunuh bakteri. 

Hal ini bertujuan agar air bersih yang digunakan untuk proses pengolahan di SPPG bebas dari bakteri, sehingga tidak memicu perubahan nitrat menjadi nitrit yang menyebabkan keracunan," tegasnya.
 
Sudarsono menjelaskan bahwa nitrit sangat berbahaya karena dapat mengikat hemoglobin dalam darah, sehingga darah tidak dapat mengikat oksigen. Hal ini menyebabkan pasien mengalami sesak napas, lemas, dan kekurangan oksigen.
 
"Jika saat kejadian keracunan dibutuhkan banyak oksigen, kemungkinan besar penyebabnya adalah nitrit. Keracunan nitrit dapat dibedakan dari keracunan bakteri, di mana keracunan bakteri biasanya hanya diikuti diare," pungkasnya. *** 


Editor : Ahmad Sayuti