TPA Sarimukti Bakal Ditutup, DLH KBB Keluhkan Jika Harus Buang Sampah ke TPPAS Legok Nangka
Semenjak TPA Sarimukti ditutup DLH KBB mengeluhkan jumlah pembuangan sampah ke TPPAS Legoknangka yang belum maksimal
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Penutupan TPA Sarimukti yang rencananya bakal dilakukan pada 2023 mendatang membuat Kabupaten Bandung Barat (KBB) tak memiliki pilihan lain selain membuang sampah ke Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Legok Nangka di Kabupaten Bandung.
Kendati demikian, tak semua sampah dibuang ke TPPAS Legok Nangka. Dari sekitar 150 ton per hari produksi sampah KBB, hanya 75 ton yang bakal dibuang ke Legok Nangka.
Staf Bidang Kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat (KBB), Rudi Huntadi mengatakan, usai TPA Sarimukti ditutup pada 2023, memang pilihannya sampah harus dibuang ke TPPAS Legok Nangka.
Baca Juga: Pengangkutan Sampah Kota Bandung ke TPA Sarimukti Masih Terkendala
"Banyak faktor yang menyebabkan kami membatasi pembuangan sampah ke Legok Nangka, di antaranya biaya operasional atau transportasi yang mahal ditambah besarnya tipping fee yang harus dibayarkan kepada pihak pengelola TPPAS," katanya kepada wartawan.
Ia menyebut, tipping fee yang harus dibayar mencapai Rp380 ribu per ton, berkali-kali lipat dari TPA Sarimukti yang hanya sebesar Rp 50 ribu per ton.
"Yang dibayarkan itu setelah mendapat subsidi dari Pemprov Jabar sebesar Rp170 ribu per ton," sebutnya.
Baca Juga: Mantap, Gubernur dan Enam Kepala Daerah Sepakat Kelola Bersama TPPAS Regional Legok Nangka
Menurutnya, biaya BBM yang harus dikeluarkan juga dipastikan naik berkali-kali lipat dibandingkan jika membuang ke Sarimukti
"Hal yang mesti menjadi perhatian lagi menyangkut kondisi armada truk," tuturnya.
Selain itu, sambung dia, kondisi medan jalan yang berat belum tentu dapat dilalui sejumlah truk sampah milik Pemkab Bandung Barat.
"Paling tidak, truk yang mengangkut sampah ke Legok Nangka tahun pembuatannya di atas 2010. Sekarang saja dari 41 armada, 3 kendaraan sering kali mogok sehingga jarang lagi digunakan," tukasnya. *** (agus satia negara).
Editor : inilahkoran

