Trade Expo Indonesia 2026: Menembus Batas Bahasa

KEMENDAG secara resmi menghadirkan layanan berbasis Kecerdasan Buatan (AI) untuk pertama kalinya dalam sejarah penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026.

Trade Expo Indonesia 2026: Menembus Batas Bahasa
TEI: Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat 6.597 pembeli dari 113 negara telah terdaftar mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14–18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.(ANTARA FOTO)

Di salah satu sudut riuhnya gedung Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, seorang perempuan paruh baya tampak menggenggam ponselnya dengan erat.

Matanya berbinar menatap layar yang menampilkan draf deskripsi produk anyaman bambu miliknya. Menariknya, deskripsi tersebut tertulis dalam bahasa Inggris yang fasih, bahasa Arab yang anggun, dan bahasa Mandarin yang presisi.

Perempuan itu adalah Ibu Sumiati, perajin asal desa kecil di Jawa Tengah. Selama bertahun-tahun, mimpinya untuk melihat produk lokalnya melanglang buana selalu terbentur satu dinding tebal: keterbatasan bahasa.

Setiap kali pembeli (buyer) internasional mendekati stan pamerannya pada tahun-tahun lalu, Ibu Sumiati kerap dilanda kecemasan karena "bahasa gagap"—kebingungan bagaimana menjelaskan keunggulan produknya tanpa penerjemah.

Namun, atmosfer penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 membawa cerita yang sepenuhnya baru.

Tahun 2026 ini, Kementerian Perdagangan tidak hanya menyediakan ruang pameran konvensional.

Di bawah arahan Menteri Perdagangan Budi Santoso dan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti, Kemendag meluncurkan layanan jasa AI pertama kali di TEI untuk memperkuat kapasitas SDM lokal menghadapi era digital.

Layanan asisten pintar ini dirancang secara ramah pengguna (user-friendly) agar pelaku UMKM yang tidak akrab dengan teknologi tinggi sekalipun bisa mengoperasikannya dengan mudah.

Cukup dengan memasukkan karakteristik produk dalam bahasa Indonesia, AI akan mengolahnya menjadi materi promosi global yang memikat, memprediksi tren pasar yang diminati di negara tujuan, hingga membantu menyusun komunikasi bisnis yang profesional.

"Saya sempat takut teknologi ini hanya untuk perusahaan besar," ujar Ibu Sumiati sambil tersenyum lega.

"Ternyata, lewat komputer di stan bantuan Kemendag, petugas mendampingi saya memakai AI untuk menyapa pembeli dari Timur Tengah menggunakan bahasa mereka. Rasanya sekat penahan ekspor kami mendadak runtuh." Manfaat nyata asisten AI ini tidak sekadar mempercepat proses bisnis atau mengejar target transaksi ekspor yang masif.

Lebih dalam dari itu, inovasi ini menumbuhkan rasa percaya diri baru bagi talenta digital dan pelaku usaha perempuan yang mendominasi sektor usaha mikro.

AI mengubah cara kerja UMKM tradisional menjadi lebih tajam dan efisien. Mereka tidak lagi meraba-raba apa yang diinginkan pasar global karena data tren sudah disajikan secara instan lewat bantuan kecerdasan artifisial.

Sesi business matching yang semula menegangkan kini dilewati dengan senyuman karena para perajin tahu teknologi ada di belakang mereka untuk mendukung negosiasi.

Pemanfaatan AI di ajang Trade Expo Indonesia 2026 membuktikan bahwa teknologi terbaik bukanlah yang paling rumit, melainkan yang paling mampu menjawab kebutuhan riil manusia di dalamnya.

 Di balik deretan angka target ekspor yang dicanangkan pemerintah, ada cerita tentang Ibu Sumiati dan ribuan UMKM lainnya yang kini menatap panggung global tanpa rasa takut lagi.

Teknologi kecerdasan buatan di TEI 2026 telah menjalankan fungsi tertingginya: menjadi alat pembebas bagi kreativitas lokal agar dapat bersinar terang di pasar dunia.

Sementara itu Kemendag mencatat 6.597 pembeli dari 113 negara telah terdaftar mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14–18 Oktober 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten.

“Hingga hari ini sudah terdaftar sebanyak 6.597 buyer,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi di Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (30/9).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 680 pembeli berasal dari India, sedangkan China, Nigeria, dan Malaysia turut masuk dalam empat negara dengan jumlah pembeli terdaftar terbanyak pada TEI tahun ini.

Kemendag sebelumnya menargetkan TEI 2026 dikunjungi 8.000 pembeli dari berbagai negara. Dengan demikian, jumlah yang telah terdaftar hingga 30 September 2026 setara sekitar 82,46 persen dari target.

Kemendag juga menargetkan TEI 2026 diikuti 1.500 perusahaan sebagai peserta pameran dan dikunjungi 30.000 pengunjung, dengan nilai transaksi mencapai 17,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp313,2 triliun.

Fajarini mengatakan TEI menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan pelaku usaha dalam negeri dengan pembeli dari berbagai negara, terutama bagi eksportir baru yang ingin memperkenalkan produknya ke pasar global.

“Cukup dari Indonesia mereka sudah bisa langsung bertemu dengan buyer di seluruh dunia untuk mengenalkan dan menjual langsung,” ujarnya.

Bagi eksportir yang telah memiliki pasar di luar negeri, lanjut dia, pertemuan dengan pembeli dari berbagai kawasan dapat dimanfaatkan untuk memperluas negara tujuan ekspor.

Untuk meningkatkan peluang transaksi, Kemendag pada penyelenggaraan tahun ini menjalankan penjajakan bisnis pra-pameran atau pre-business matching.

Fajarini menjelaskan peserta pameran yang telah mendaftar langsung diperkenalkan kepada calon pembeli di berbagai negara dan difasilitasi mengikuti penjajakan bisnis dalam sekitar satu bulan terakhir.

“Sehingga harapannya tentu nanti pada saat Trade Expo banyak yang sudah melakukan close deal,” ucapnya. (bsf)


Editor : Inilahkoran