Tragedi Pesta Rakyat Garut Bakal Jadi Evaluasi, Termasuk untuk Agenda Rutin Nganjang Ka Warga
Gubernur Dedi Mulyadi mengatakan, tragedi meninggalnya tiga orang di pesta rakyat pernikahan putranya, Maula Akbar Mulyadi Putra dengan Putri Karlina beberapa waktu lalu di Kabupaten Garut, akan menjadi bahan evaluasi termasuk untuk agenda rutin Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Nganjang ka Warga
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Gubernur Dedi Mulyadi mengatakan, tragedi meninggalnya tiga orang di pesta rakyat pernikahan putranya, Maula Akbar Mulyadi Putra dengan Putri Karlina beberapa waktu lalu di Kabupaten Garut, akan menjadi bahan evaluasi termasuk untuk agenda rutin Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Nganjang ka Warga.
Dia menjelaskan, sejatinya pesta rakyat yang merenggut tiga korban ini dilakukan di malam hari dan di lapangan terbuka. Bukan di Pendopo Garut pada siang hari.
"Acara yang kemarin itu di jadwal yang saya miliki dan di media sosial yang saya unggah itu, seharusnya dilakukan malam hari. Berbarengan dengan acara kesenian, pagelaran seni. Kemudian dilakukan di lapang terbuka. Jadi yang jam 13 tuh tidak ada dalam agenda yang saya miliki," ujar Dedi dikutip Minggu 20 Juli 2025.
Secara tegas Dedi mengaku tidak mengetahui, bahkan tak mengikuti acara tersebut karena tidak ada dalam agenda yang dijadwalkannya.
"Saya tidak tahu, kan saya tidak mengikuti acara itu. Yang dipersiapkan oleh tim saya itu adalah yang malam. Yaitu bakso, soto, sate, martabak. Itu sudah ditata tuh di areal alun-alun. Di pinggir jalan sudah ditata, konter-konternya sudah disiapkan," ucapnya.
Untuk pembiayaannya sendiri pun lanjut dia, tidak ada kaitan dengan anggaran pemerintah. Bahkan dengan tegas dia mengaku menolak, ketika pesta rakyat tersebut diusulkan dibarengi dengan kegiatan Nganjang ka Warga.
"Dan saya waktu itu menolak ketika ada tawaran. Gimana kalau bareng sama Nganjang Ka Warga, saya menolak. Karena Nganjang Ka Warga adalah agenda pemerintah, sedangkan itu adalah agenda pribadi," kata dia.
Dedi juga memastikan, tragedi ini tidak akan memengaruhi agenda Nganjang ka Warga yang telah dirancang Pemprov Jabar.
"Enggak, kita tetap jalan. Kegiatan saya ketemu keliling warga kan sudah hampir 20 tahun, tidak pernah ada problem apapun. Kegiatan bertemu dengan warga di Lembur Pakuan hampir tiap bulan makan puluhan ribu orang enggak ada problem apapun," ucapnya.
Meski diakuinya, dengan adanya tragedi ini bakal ada evaluasi supaya kejadian serupa tidak lagi terulang, khususnya pada agenda Nganjang ka Warga.
"Ya kita jalan, kegiatan tetap kita jalankan dengan pengawasan dan perencanaan nya lebih dimatangkan. Kan kita bukan baru," pungkasnya. (Yuliantono)
Editor : Ahmad Sayuti
