Transformasi Pendidikan Dimulai dari Kelas, Guru Jadi Kunci Digitalisasi Pembelajaran

Transformasi pendidikan berbasis teknologi kembali ditegaskan sebagai kebutuhan mendesak dalam menghadapi perubahan zaman. 

Transformasi Pendidikan Dimulai dari Kelas, Guru Jadi Kunci Digitalisasi Pembelajaran
Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Wilayah XII Tasikmalaya Zhairy Anshryanto menegaskan, digitalisasi di lingkungan pendidikan sejatinya sudah tersedia secara fasilitas, namun pemanfaatannya masih perlu dioptimalkan. (n nurohman)

INILAHKORAN.ID - Transformasi pendidikan berbasis teknologi kembali ditegaskan sebagai kebutuhan mendesak dalam menghadapi perubahan zaman. 

Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Wilayah XII Tasikmalaya Zhairy Anshryanto menegaskan, digitalisasi di lingkungan pendidikan sejatinya sudah tersedia secara fasilitas, namun pemanfaatannya masih perlu dioptimalkan.

“Perangkat digital itu sebagian besar sudah diterima oleh satuan pendidikan, khususnya sekolah negeri. Tinggal bagaimana pemanfaatannya secara maksimal dalam proses pembelajaran,” ujarnya saat workshop bertajuk transformasi pembelajaran inovatif berbasis teknologi, Jumat (1/5/2026).

Dia menambahkan, workshop ini menjadi ruang bagi para pendidik untuk mendapatkan arahan langsung terkait inovasi pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi digital.

Sementara itu, Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (GTK Dikmen Diksus) Arif Jamil Muis menekankan keberhasilan transformasi pendidikan sangat bergantung pada peran guru di dalam kelas.

“Ujung dari transformasi pendidikan itu ada pada guru. Sebagus apapun konsep yang dibuat, jika guru tidak berubah, maka tidak akan ada perubahan,” tegasnya.

Dia juga mengingatkan, pendidikan bukan sekadar pengeluaran, melainkan investasi jangka panjang bagi peradaban bangsa. Untuk itu, diperlukan komitmen bersama untuk terus beradaptasi dan berkembang.

“Sudah banyak perubahan kurikulum yang terjadi, namun itu tidak akan berarti tanpa transformasi dari gurunya sendiri,” tambahnya.

Di sisi lain, anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah menyebut kegiatan ini akan dijadikan sebagai gerakan berkelanjutan dalam mendorong digitalisasi pendidikan dan penerapan pembelajaran mendalam (deep learning).

“Ini bukan kurikulum baru, tetapi pendekatan baru agar pembelajaran lebih bermakna, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan zaman,” jelasnya.

Dia juga mengungkapkan, ke depan kegiatan serupa akan dikembangkan dengan konsep blended learning, yakni kombinasi 50 persen tatap muka dan 50 persen daring, sebagai bentuk efisiensi sekaligus perluasan jangkauan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru dan kepala sekolah tidak hanya memahami konsep transformasi pendidikan, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara nyata di ruang kelas, sehingga mampu membentuk karakter serta etika digital peserta didik di era teknologi.


Editor : Doni Ramdhani