Trump Dorong Irlandia Bersatu dengan Irlandia Utara, Sebut Hal Paling Alami

Donald Trump kembali mendukung penyatuan Irlandia dan Irlandia Utara. Inggris menegaskan referendum harus mengikuti Good Friday Agreement 1998.

Trump Dorong Irlandia Bersatu dengan Irlandia Utara, Sebut Hal Paling Alami
Donald Trump kembali mendukung penyatuan Irlandia dan Irlandia Utara. Inggris menegaskan referendum harus mengikuti Good Friday Agreement 1998.

INILAHKORAN.ID-Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan dukungannya terhadap penyatuan Irlandia dengan Irlandia Utara. Ia menyebut penyatuan kedua wilayah tersebut sebagai “salah satu hal paling alami sepanjang masa”.

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan saat melakukan kunjungan ke Irlandia, Minggu (13/9/2026).

“Saya selalu mencintai rakyat Irlandia dan menurut saya Anda memiliki Irlandia Utara dan Anda memiliki Irlandia, dan menurut saya salah satu hal yang paling alami sepanjang masa adalah menyatukan keduanya,” kata Trump.

Trump juga mengklaim banyak orang memiliki pandangan serupa mengenai kemungkinan penyatuan Irlandia dan Irlandia Utara.

Pernyataan tersebut muncul setelah Trump sebelumnya menyatakan dirinya “akan senang” melihat Irlandia bersatu. Dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin di Dublin, Trump bahkan menyebut penyatuan tersebut “sebaiknya terjadi sekarang”.

Inggris Tolak Dorongan Trump

Pemerintah Inggris menolak pandangan Trump tersebut. Kantor Perdana Menteri Inggris menegaskan bahwa syarat untuk menggelar referendum mengenai status Irlandia Utara sebagaimana diatur dalam Good Friday Agreement 1998 belum terpenuhi.

Dalam kesepakatan tersebut, referendum mengenai perubahan status Irlandia Utara hanya dapat digelar apabila terdapat indikasi jelas bahwa mayoritas masyarakat di wilayah tersebut menginginkan keluar dari Inggris dan bergabung dengan Republik Irlandia.

Trump kemudian menanggapi sikap Perdana Menteri Inggris Andy Burnham yang menyatakan tidak akan ada pemungutan suara konstitusional tanpa persetujuan mayoritas di Irlandia Utara.

“Semua orang mengatakan begitu, lalu berbagai hal terjadi,” ujar Trump, mengabaikan penolakan resmi tersebut.

Perdebatan mengenai masa depan konstitusional Irlandia dan Irlandia Utara berlangsung ketika Perdana Menteri Irlandia Utara Michelle O’Neill, Perdana Menteri Skotlandia John Swinney, dan Perdana Menteri Wales Rhun ap Iorwerth dilaporkan bersiap bertemu di Cardiff pada Senin (14/9/2026).

Pertemuan tersebut disebut akan membahas perubahan konstitusional sekaligus penguatan kerja sama di antara wilayah-wilayah Britania Raya di luar kendali langsung London.

Trump Soroti Energi Inggris

Dalam kunjungan yang sama, Trump juga mengomentari kebijakan energi Inggris. Ia mendorong Inggris untuk menghentikan proyek energi terbarukan dan memanfaatkan cadangan bahan bakar fosil di kawasan lepas pantai Skotlandia.

Menurut Trump, eksploitasi sumber daya energi di Laut Utara dapat menjadi jalan bagi Inggris untuk memperkuat perekonomiannya.

“Jika mereka membuka kawasan Laut Utara, Inggris akan menjadi negara kaya. Jika mereka tidak membuka kawasan Laut Utara, Inggris akan bangkrut,” kata Trump.

Trump juga mengklaim perusahaan-perusahaan minyak internasional terus mendorongnya untuk mendukung peningkatan pengeboran di Laut Utara.

Ia turut mengkritik kondisi impor energi Inggris saat ini dari negara-negara seperti Norwegia dan Denmark.

Pernyataan Trump mengenai penyatuan Irlandia maupun kebijakan energi Inggris berpotensi kembali memicu perdebatan politik di tengah sensitivitas hubungan konstitusional antara Inggris, Irlandia Utara, dan Republik Irlandia.***


Editor : JakaPermana