Tumpukan Sampah Pascalebaran Ancam Kesehatan Warga Bandung

Sampah yang menggunung di sejumlah ruas jalan Kabupaten Bandung kian memprihatinkan. Tak hanya mengganggu estetika, kondisi itu pun mengancam kesehatan warga.

Tumpukan Sampah Pascalebaran Ancam Kesehatan Warga Bandung
Tumpukan sampah di Jalan Raya Bandung-Soreang Kampung Leuweung Kaleng, Kecamatan Katapang. (rd dani r nugraha)

INILAHKORAN.ID - Tumpukan sampah di sejumlah ruas jalan di Kabupaten Bandung kian memprihatinkan sepekan pascalebaran, Senin (30/3/2026). 

Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu estetika, tetapi juga menimbulkan bau menyengat yang membuat warga dan pengguna jalan terpaksa menutup hidung saat melintas.

Pantauan di lapangan, tumpukan sampah terlihat di beberapa titik. Di antaranya di Jalan Raya Bandung-Soreang Kampung Leuweung Kaleng, Kecamatan Katapang, jalan masuk pemukiman depan Kampung Tegal Caang Desa Pamekaran Kecamatan Soreang, hingga di tepi Jalan Raya Jenderal Sudirman atau Terusan Jalan Al Fathu Soreang. 

Kondisi serupa juga terlihat di Jalan Raya Soreang-Banjaran serta sejumlah sudut jalan lainnya.

sampah yang menggunung tampak dikerumuni lalat dan mengeluarkan bau tak sedap yang menyengat. Kondisi ini dinilai berpotensi menjadi sumber penyakit bagi masyarakat sekitar.

Salah seorang warga Katapang, Ajang Darmawan (50) mengaku resah dengan kondisi tersebut. Menurutnya, bau busuk dari sampah sangat mengganggu aktivitas warga sehari-hari.

“Baunya menyengat sekali, menjijikan. Setiap lewat pasti tutup hidung. Apalagi banyak lalat, ini bisa jadi sumber penyakit seperti diare dan muntaber,” kata Ajang.

Dia berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk mengangkut sampah yang menumpuk, sehingga tidak semakin memperburuk kondisi lingkungan dan kesehatan warga.

Hingga kini, tumpukan sampah masih terlihat di sejumlah titik dan belum tertangani secara maksimal. Warga khawatir jika dibiarkan berlarut, kondisi tersebut akan memicu masalah kesehatan yang lebih serius.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Ruli Hadiana mengatakan jika permasalahan sampah menjadi salah satu tantangan terberat bagi pihaknya. Sebab, sampah liar terus bermunculan di berbagai ruas jalan di Kabupaten Bandung.

sampah liar bermunculan karena masih ada masyarakat yang gemar membuang sampah di titik-titik yang bukan peruntukannya, seperti di tepi jalan maupun trotoar. Apalagi pasca puasa dan hari raya Idulfitri, tentu produksi sampah rumah tangga dari warga ini meningkat,” kata Ruli.

Menurutnya, meski petugas kerap melakukan pembersihan, keberadaan TPS liar terus berulang. sampah yang sudah diangkut, dalam waktu singkat kembali menumpuk di lokasi yang sama.

Di sisi lain, DLH Kabupaten Bandung juga menghadapi pembatasan kuota pengangkutan sampah ke TPA Sarimukti yang berada di Kabupaten Bandung Barat. Saat ini, kuota pengiriman sampah dibatasi hanya 280 ton per hari.

Kondisi tersebut membuat penanganan sampah tidak bisa maksimal.

“Saat sampah dari TPS liar ini kami angkut tapi  hanya kami dipindahkan ke tempat penampungan sementara. Karena kuota ke Sarimukti terbatas, tidak semua bisa langsung dibuang ke TPA. Sementara itu, masyarakat kembali membuang sampah di TPS liar,” ujarnya.

Ruli mengimbau masyarakat agar lebih bijaksana dalam membuang sampahnya. Salah satu langkah yang bisa dilakukan masyarakat untuk membantu mengurangi sampah, yakni dengan cara memilah sampah organik dan an organik. sampah organik yakni berupa sisa makanan seperti sayuran dan buah-buahan bisa dijadikan pupuk kompos dengan cara dimasukan ke dalam lubang tanah atau biopori.

Sedangkan, sisa sampah anorganik seperti plastik, kaca besi dan lainnya bisa dikumpulkan dan diberikan kepada pengepul barang bekas atau rongsokan. Dengan cara tersebut, diyakini dapat mengurangi produksi sampah cukup signifikan sejak dari tingkat rumah tangga.


Editor : Doni Ramdhani