Ungkap Penyebab Keracunan Massal Gegara Kupat Tahu, Dinkes KBB: Terdapat Bakteri Bacillus Cereus dan Staphylococcus Aureus

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengungkap penyebab keracunan massal warga Kecamatan Saguling dan Cihampelas, Sabtu 20 Juli 2024 lalu.

Ungkap Penyebab Keracunan Massal Gegara Kupat Tahu, Dinkes KBB: Terdapat Bakteri Bacillus Cereus dan Staphylococcus Aureus
Berdasarkan berdasarkan hasil uji Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jabar, keracunan massal gegara kupat tahu yang dikonsumsi puluhan warga di dua kecamatan di KBB tersebut diketahui mengandung bakteri Bacillus cereus. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengungkap penyebab keracunan massal warga Kecamatan Saguling dan Cihampelas, Sabtu 20 Juli 2024 lalu.

Berdasarkan berdasarkan hasil uji Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jabar, keracunan massal gegara kupat tahu yang dikonsumsi puluhan warga di dua kecamatan di KBB tersebut diketahui mengandung bakteri Bacillus cereus.

"Hasil laboratorium uji sampel makanan terhadap peristiwa keracunan massal di Saguling dan Cihampelas sudah keluar. Di sana ditemukan positif bakteri," kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan KBB Deni Achmad, Kamis 22 Agustus 2024.

Deni menjelaskan, untuk memastikan penyebab keracunan massal itu, pihaknya telah mengirimkan 5 sampel makanan ke laboratorium terdiri dari 2 sampel muntahan, satu sampel lontong, satu sampel kuah kupat, dan satu sampel tahu goreng. 

"Berdasarkan hasil uji kandungan mikrobiologi, selain bakteri Bacillus cereus salah satu sampel makanan tersebut positif Staphylococcus aureus," jelasnya.

Kedua bakteri tersebut, kata Deni, bisa muncul di makanan karena sejumlah faktor. Mulai dari kurang higienis dalam pengolahan, kandungan bahan baku yang digunakan, hingga terjadinya kontaminasi sehingga makanan basi. 

"Memang ada dua bakteri yang ditemukan. Pertama Bacillus cereus itu ditemukan positif dari sampel kuah kupat, sedangkan bakteri Staphylococcus aureus itu diketahui dari sampel muntahan," ujarnya.

Sebelumnya, sebanyak 42 warga Kampung Citeurup Desa Girimukti, Kecamatan Saguling, dan warga Kampung Rancaeceng, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cihampelas mengalami keracunan usai menyantap makanan kupat tahu di Pasar Maroko Kecamatan Cihampelas, pada Jumat 19 Juli 2024. 

Warga mengalami keluhan medis berupa mual, muntah, diare, dan pusing. Kondisi ini dialami, pada Sabtu 20 Juli 2024 pagi.

Deni mengaku, pihaknya telah melakukan pelacakan warga keracunan imbas menyantap makanan kupat tahu, di pasar Kampung Maroko. 

Hasilnya, tercatat ada 22 warga Desa Girimukti yang mengalami keracunan. Sedangkan di Desa Mekarjaya total warga menderita keracunan 20 orang. 

Dinas Kesehatan bakal memperketat pengawasan terhadap para pelaku usaha kuliner dan katering. Mereka bakal diberi pembinaan tentang pengolahan makanan secara higienis. 

"Guna mengantisipasi kejadian serupa kita akan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap pelaksanaan pembuatan makanan untuk konsumsi jumlah besar ataupun kecil. Kami akan kolaborasi dengan berbagai stakeholder," ujarnya.


Editor : Doni Ramdhani