Usai Puncak, Bachril Bakri Bakal Tertibkan Pungli dan Premanisme di Objek - Objek Wisata Lainnya

Kawasan Puncak sudah bersih dari aksi pungutan liar (Pungli) maupun  premanisme, bagaimana di objek - objek  wisata lainnya di Kabupaten Bogor?.

Usai Puncak, Bachril Bakri Bakal Tertibkan Pungli dan Premanisme di Objek - Objek Wisata Lainnya
Penjabat Bupati Bogor Bachril Bakri menuturkan bahwa Kawasan Puncak sudah bersih dari aksi Pungli maupun premanisme, berkat tindakan pemerintah daerah bersama kepolisian dan TNI.

INILAHKORAN, Bogor - Kawasan Puncak sudah bersih dari aksi pungutan liar (pungli) maupun  premanisme, bagaimana di objek - objek  wisata lainnya di Kabupaten Bogor?.

Penjabat Bupati Bogor Bachril Bakri menuturkan bahwa Kawasan Puncak sudah bersih dari aksi pungli maupun premanisme, berkat tindakan pemerintah daerah bersama kepolisian dan TNI.

"Pemkab Bogor bersama kepolisian dan TNI sudah menertibkan aksi pungli maupun premanisme, yang dilakukan oleh ojek jalan alternatif maupun 'polisi cepe'. Nanti, akan kami lakukan hal yang sama di objek - objek wisata alam lainnya yang ada di Kabupaten Bogor," tutur Bachril Bakri kepada wartawan, Kamis, 2 Januari 2024.

Tak hanya menertibkan aksi pungli dan premanisme, Pemkab Bogor dengan bantuan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) juga juga sudah melengkapi jalan alternatif dengan rambu - rambu lalu lintas dan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU).

"Saat ini jalan alternatif sudah dipasangi rambu - rambu lalu lintas termasuk penunjuk arah menuju Puncak (Kecamatan Cisarua) dan juga lampu PJU, hingga wisatawan bisa lebih mudah, nyaman dan tidak lagi ragu berwisata di Kawasan Puncak," ungkap Bachril Bakri.

Kepala BPTJ Suharto menjelaskan jalan alternatif menuju Kawasan Puncak hanya diperuntukkan untuk kendaraan roda dua dan roda empat yang kapasitas mesinnya diatas 1.500 cc.

"Kami menyarankan kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat berkapasitas 1.500 cc menggunakan jalan altermatif, dan melarang bus dan truk (non pengangkut Sembako) menggunakan jalan alternatif ini karena lebar jalannya kurang memadai dan kontur jalannya pun banyak meliuk dan turunan atau tanjakan tajam," jelas Suharto.

Mantan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor ini melanjutkan, bahwa  alasan jajarannya menganjurkan penggunaan jalan alternatif karena volume kendaraan di Jalan Raya Puncak terlalu padat, hingga butuh diurai.

"Ketika Jalan Raya Puncak macet, maka kendaraan roda dua dan roda empat kapasitas mesinnya 1.500 cc  bisa memilih jalan alternatif. Petugas Dinas Perhubungan juga akan memandu dan menseleksi kendaraan yang bakal melewati jalan alternatif," laniut Suharto. 


Editor : Ahmad Sayuti