Usia Bukan Penghalang untuk Produktif, Pria Paruh Baya Asal Cipeundeuy KBB Sukses Hidupkan Perekonomian Wargan

Abah Duduy berhasil memberdayakan dan menghidupkan perekonomian masyarakat yang ada di sekitar Desa Cipeundeuy KBB

Usia Bukan Penghalang untuk Produktif, Pria Paruh Baya Asal Cipeundeuy KBB Sukses Hidupkan Perekonomian Wargan
Abah Duduy pria paruh baya asal Cipeundeuy KBB berhasil menghidupkan perekonomian warganya lewat kerajinan eceng gondok.


INILAHKORAN, Ngamprah - Dudu Abdullah (62) warga Desa Cipeundeuy, Kecamatan Cipeundeuy Kabupaten Bandung Barat (KBB) berhasil membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang agar tetap bisa produktif dan bermanfaat bagi sesama.

Pria paruh baya yang akrab disapa Abah Duduy itu nyatanya bisa memberdayakan masyarakat melalui usaha kerajinan produk yang memanfaatkan gulma atau eceng gondok sebagai bahan baku utamanya di wilayah Cipeundeuy, KBB.

Berbekal keinginan dan niat yang kuat, Abah Duduy berhasil memberdayakan dan menghidupkan perekonomian masyarakat yang ada di sekitar Desa Cipeundeuy.

Baca Juga: Unik dan Menarik, Kerajinan Eceng Gondok Cipeundeuy Tembus Pasar Nasional

Tak hanya itu, ia juga berhasil memasarkan produknya tidak hanya di Jawa Barat, namun juga di pasar nasional.

"Untuk pemasaran itu alhamdulillah kita sudah kerja sama dengan perusahaan houseware di Yogyakarta. Kita dari mulai pandemi kemarin dan masih terus berjalan hingga saat ini," katanya, belum lama ini.

Ia mengaku, pihaknya telak menandatangani kontrak pre order (PO) pada Juli 2021 hingga Juli 2022 mendatang. Dalam sebulan industri kreatif ecengnya harus menyiapkan sebanyak 1.500 produk kerajinan dari eceng gondok.

Baca Juga: Sempat Masuk Pasar Internasional, Kerajinan Bambu di Cisarua Berharap Bisa Bangkit Lagi

"Perbulan itu harus kita siapkan 1.500 piece prdouk untuk dikirim ke Yogya," ujarnya.

Namun demikian, ia mengeluhkan kendala yang dihadapi dalam memproduksi kerajinan ecengnya. Pasalnya, saat musim hujan tiba banyak ecengnya yang tidak kering lantaran selama ini proses penjemuran masih dilakukan secara manual dengan memanfaatkan panas matahari.

"Untuk bahan baku memang sekarang musim hujan itu ada kendala di penjemuran. Disamping itu kita ngambil eceng dari Danau Cirata, kita ngambil eceng juga dari luar kabupaten dan provinsi seperti Demak, Tangerang dan Yogyakarta yang kerap kali terlambat datang," bebernya.

Menyiasati kendala tersebut, ia pun berencana di awal tahun 2022 membuat tempat penjemuran terapung dan menyediakan satu alat angkut perahu untuk kegiatan petani yang ngambil eceng di danau.

Baca Juga: Kemenperin Dorong IKM Kerajinan Masuk Pasar Daring Global

"Nantinya diharapkan kebutuhan eceng kering kita dalam satu bulan sebanyak 1,5 ton bisa terpenuhi," ujarnya.

Ia menyebut, suplai eceng gondok dari Danau Cirata hanya bisa didapat sekitar 5 kuintal, dan masih kekurangan eceng kering sebanyak 1 ton per bulan.

"Jadi 1 ton ini masih bisa ditutupi karena ada suplai eceng kering dari luar kabupaten dan luar provinsi," tandasnya. *** (Agus Satia Negara)


Editor : inilahkoran