Farhan Ungkap Risiko Bangunan di Atas Kirmir Jalan Pungkur

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti bangunan di atas kirmir lama di kawasan Jalan Pungkur. Bangunan itu berisiko memperbesar potensi longsor.

Farhan Ungkap Risiko Bangunan di Atas Kirmir Jalan Pungkur
Farhan meminta bangunan yang melanggar kirmir lama di Jalan Pungkur dipotong, mencegah risiko longsor. (dok)

INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti bangunan yang berdiri di atas kirmir lama di kawasan Jalan pungkur. Keberadaan bangunan itu berisiko memperbesar potensi longsor saat kirmir mengalami kerusakan.

Dia mengatakan, persoalan kirmir berkaitan dengan rekayasa aliran air. Pembangunan kirmir baru, justru dinilai dapat mempersempit ruang aliran sungai jika tidak memperhatikan kondisi kirmir lama.

"Salah satu kasus contoh di Jalan pungkur yang kemarin roboh itu. Minggu lalu kan terjadi longsor," kata Farhan, Senin (21/9/2026).

Dia menjelaskan, kawasan itu sebelumnya memiliki kirmir lama. Kemudian dibangun kirmir baru sehingga muncul bangunan di atas struktur baru. kirmir baru memiliki konstruksi yang lemah, hingga akhirnya roboh dan ikut menyeret bangunan di atasnya.

"kirmir baru ini lemah, pasti. Ini roboh, ikut roboh. Maka pemerintah tidak akan membangun kirmir baru lagi," ucapnya.

Farhan menyebut, pembangunan kirmir baru tidak menjadi pilihan karena berpotensi mempersempit lahan sungai. Kondisi itu dinilai dapat mengganggu ruang aliran air, dan meningkatkan risiko saat debit air meningkat.

"Karena apa? Karena itu menyempitkan lahan untuk sungai," ujar dia.

Sebagai langkah antisipasi, dia meminta warga yang memiliki bangunan melanggar batas kirmir lama agar melakukan pemotongan bangunan. Langkah itu, dinilai penting demi mengurangi risiko longsor kembali di kawasan tersebut.

"Yang saya minta, malah warga agar yang melanggar kirmir lama memotong bangunannya karena risiko longsornya kembali besar," tegasnya.

Selain persoalan kirmir, Farhan menyebut hujan deras selama dua hari terakhir memunculkan genangan di sejumlah titik. Kondisi itu masih dapat ditangani, tetapi menjadi bahan evaluasi bagi penanganan drainase.

Berdasarkan evaluasi hujan, perbaikan akan diarahkan pada sejumlah titik terutama bagian tali air. Dia menyebut, kawasan Cicadas menjadi salah satu contoh hasil perbaikan yang dinilai berhasil.

"Alhamdulillah, di Cicadas terutama yang trotoarnya sudah kita perbaiki bersama dengan pemerintah pusat. Itu sudah bagus sekali, jadi tidak ada genangan sama sekali," ujar dia.

Menurut Farhan, tantangan masih muncul di kawasan perbatasan timur dan barat. Beberapa wilayah yang menjadi perhatian antara lain Cimindi, Cibaduyut dan Derwati. Pompa air diakuinya bukan solusi utama dalam menangani genangan.

Pembangunan rumah pompa membutuhkan rekayasa teknis yang kompleks, termasuk perhitungan elevasi dan biaya yang tidak sedikit. "Pompa air itu pilihan terakhir. Karena kalau kita membangun pompa air, bukan berarti sedot terus buang," tuturnya.

Dia menambahkan, perbaikan rekayasa aliran air lebih penting agar ruang aliran tetap lega dan tidak mengalami penyempitan. Pendekatan itu, dinilai dapat menjadi bagian dari penanganan genangan sekaligus mengurangi risiko longsor di kawasan yang memiliki kirmir.


Editor : Doni Ramdhani