Tekan Angka Kematian Bayi, Farhan Minta Pelayanan IGD RSUD Bandung Kiwari Diperkuat

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti angka kematian bayi di RSUD Bandung Kiwari. Penguatan IGD dan kemampuan tenaga medis menjadi fokus pembenahan.

Tekan Angka Kematian Bayi, Farhan Minta Pelayanan IGD RSUD Bandung Kiwari Diperkuat
Wali Kota Bandung Farhan menyampaikan upaya peningkatan pelayanan RSUD Bandung Kiwari, untuk menekan angka kematian bayi baru lahir.

INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan, angka kematian bayi baru lahir di RSUD Bandung Kiwari masih menjadi tantangan serius. Meski angka kematian ibu melahirkan berhasil ditekan jauh di bawah rata-rata nasional, rumah sakit tersebut masih perlu memperkuat pelayanan untuk menekan kematian bayi.

Salah satu fokus pembenahan diarahkan pada peningkatan kualitas pelayanan instalasi gawat darurat (IGD). Pasalnya, rumah sakit kerap menerima pasien dengan kondisi kehamilan berat atau severe yang membutuhkan penanganan segera.

"Khusus RSUD Bandung Kiwari, tantangan terbesarnya sekarang adalah walaupun berhasil menekan angka kematian ibu melahirkan jauh di bawah rata-rata nasional, tetapi jumlah kematian bayi yang terjadi masih cukup tinggi. Karena itu, saat ini sedang dilakukan berbagai upaya menekan angka kematian bayi," kata Farhan, Jumat (30/10/2026).

Menurut Farhan, kondisi kesehatan ibu menjadi salah satu faktor penting dalam upaya menekan angka kematian bayi. Kesehatan ibu selama kehamilan sangat memengaruhi kondisi janin sehingga pelayanan medis perlu diberikan secara optimal sejak masa kehamilan.

RSUD Bandung Kiwari pun akan membangun sistem pelayanan yang lebih terarah. Salah satunya dengan memastikan ibu hamil yang datang untuk berkonsultasi mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sesuai kebutuhan medis. Penguatan pelayanan juga mencakup kesiapan tenaga kesehatan dalam menghadapi pasien dengan kondisi darurat.

Farhan menilai, kemampuan IGD perlu ditingkatkan karena RSUD Bandung Kiwari kerap menerima pasien rujukan dari berbagai daerah. Tidak sedikit pasien datang ketika kondisi kehamilannya sudah berat sehingga membutuhkan penanganan cepat dan tepat.

"Banyak pasien datang dalam kondisi sudah sangat berat atau severe. Karena itu, kemampuan IGD harus benar-benar ditingkatkan," ujarnya.

Dari sisi ketersediaan tenaga medis, RSUD Bandung Kiwari telah memiliki dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn). Rumah sakit tersebut juga didukung dokter subspesialis neonatologi yang menangani bayi baru lahir, serta tenaga medis di bidang fertilitas dan sejumlah layanan lainnya.

Namun, kelengkapan tenaga spesialis bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan penanganan pasien. Kemampuan teknis dalam memberikan tindakan medis, terutama ketika menghadapi pasien kritis yang datang secara tiba-tiba, masih perlu diperkuat.

"Secara keahlian, sebenarnya kami sudah cukup memadai. Namun kemampuan teknis masih perlu ditingkatkan, khususnya dalam penanganan pasien di IGD ketika ada kasus dengan kondisi sangat berat yang datang secara tiba-tiba," ujar Farhan.

Selain pembenahan IGD, peningkatan kualitas pelayanan juga diarahkan pada optimalisasi fasilitas rumah sakit. Farhan menyebut RSUD Bandung Kiwari telah memiliki sejumlah layanan unggulan, termasuk fasilitas khusus bagi perempuan dan anak-anak korban kekerasan.

Fasilitas yang berada di lantai 7 tersebut menyediakan ruang pelayanan dengan privasi terjaga. Korban bisa mendapatkan pemeriksaan, penanganan medis hingga visum secara gratis. Layanan yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan itu telah berjalan sejak 2025.

Di sisi lain, Farhan menegaskan tidak ada rencana meningkatkan klasifikasi RSUD Bandung Kiwari dari tipe B menjadi tipe A. Fokus pengembangan rumah sakit diarahkan pada peningkatan mutu pelayanan agar mampu menjadi rumah sakit tipe B terbaik.

"Yang penting menjadi rumah sakit tipe B terbaik. RSUD di Kota Bandung semuanya tipe B," pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti