Video Rampok Berkedok Pocong di KBB, Diskominfotik Ingatkan Cek Fakta dan Waspada AI

Belum lama ini, beredar luas video yang mengklaim kemunculan fenomena rampok berkedok pocong di Ngamprah, KBB yang sempat memicu keresahan dan ketakutan warga.

Video Rampok Berkedok Pocong di KBB, Diskominfotik Ingatkan Cek Fakta dan Waspada AI
"Peristiwa video rampok berkedok pocong yang viral di Ngamprah menjadi satu contoh nyata bagaimana informasi yang belum terverifikasi bisa berubah menjadi kepanikan publik hanya dalam hitungan jam," kata Rony, Kamis (28/5/2026). (ilustrasi/tangkapan layar)

INILAHKORAN.ID - Belum lama ini, beredar luas video yang mengklaim kemunculan fenomena rampok berkedok pocong di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang sempat memicu keresahan dan ketakutan warga. 

Menanggapi hal itu, Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (Diskominfotik) KBB mengeluarkan imbauan agar seluruh warganya lebih cermat, kritis dan tidak asal menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Kepala Diskominfotik KBB Rony Rudiyana menuturkan. derasnya arus informasi di media sosial saat ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi memudahkan akses berita, namun di sisi lain menjadi sarana paling cepat bagi berita bohong atau hoaks untuk menyebar luas. 

"Peristiwa video rampok berkedok pocong yang viral di Ngamprah menjadi satu contoh nyata bagaimana informasi yang belum terverifikasi bisa berubah menjadi kepanikan publik hanya dalam hitungan jam," kata Rony, Kamis (28/5/2026).

Untuk itu, terang Rony, sikap kritis masyarakat menjadi benteng utama agar tidak terjebak dan turut memperluas dampak buruk informasi palsu.

"Informasi sekarang bergerak sangat cepat di media sosial. Tapi ingat, cepat belum tentu benar. Masyarakat harus ubah kebiasaan: jangan langsung percaya dan menyebarkan konten begitu saja sebelum memastikan kebenarannya," terangnya.

"Pastikan dulu apakah informasi itu valid atau tidak. Jangan sampai kabar yang belum jelas sumbernya justru memicu keresahan, ketakutan, atau konflik di tengah masyarakat," sambungnya.

Lebih mengkhawatirkan, Rony juga menyoroti dampak kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kini semakin mudah diakses. 

Dia menilai, teknologi ini memudahkan siapa saja melakukan rekayasa visual maupun audio hingga hasilnya sangat sulit dibedakan dari kondisi asli atau nyata. 

"Hal ini membuat tantangan verifikasi informasi semakin berat dan menuntut kehati-hatian ekstra dari pengguna internet," ujarnya.

Rony menyebut, teknologi yang seharusnya membawa manfaat besar, justru berisiko disalahgunakan untuk menciptakan narasi palsu yang merugikan masyarakat luas.

"Kemajuan teknologi harus disikapi dengan bijak. Kami sangat mengkhawatirkan adanya konten hasil rekayasa AI yang dimanipulasi sedemikian rupa," tuturnya. 


Editor : Doni Ramdhani