Viral Bendera Putih di Aceh, Ini Penjelasan Gubernur soal Pesan dari Warga
Gubernur Aceh memberikan penjelasan terkait aksi warga yang mengibarkan bendera putih.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem memberikan penjelasan terkait fenomena pengibaran bendera putih di sejumlah wilayah Aceh usai dilanda banjir bandang dan tanah longsor.
Ia menegaskan, aksi tersebut tidak bisa dimaknai sebagai tanda menyerah, melainkan bentuk solidaritas dan harapan agar masyarakat terdampak mendapat bantuan.
Menurut Mualem, bendera putih yang dikibarkan warga mencerminkan rasa simpati serta keinginan untuk diperhatikan dan dibantu, baik oleh pemerintah maupun pihak lain.
“Kalau kita artikan, itu sebagai solidaritas, rasa simpati, dan keinginan untuk dibantu,” ujarnya, Kamis, (18/12).
Pernyataan tersebut disampaikan Mualem di sela kegiatan penerimaan bantuan dari Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) di Pelabuhan Krueng Geukueh. Ia menanggapi maraknya pengibaran bendera putih di berbagai daerah terdampak bencana seperti Aceh Tamiang, Bireuen, Aceh Utara, Pidie Jaya, hingga Banda Aceh.
Mualem menilai, aksi simbolik itu bertujuan menarik perhatian publik, termasuk dari luar daerah dan luar negeri, agar kondisi korban bencana mendapat sorotan.
“Itu untuk perhatian orang lain, bukan berarti menyerah,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa pemerintah daerah hingga pemerintah pusat tidak tinggal diam. Proses penyaluran bantuan dan pemulihan infrastruktur terus diupayakan, meski tidak bisa dilakukan secara instan.
"Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hari ini banjir, besok semua infrastruktur langsung dibangun, itu tidak mungkin,” katanya.
Mualem mengajak masyarakat untuk bersabar dan saling memahami kondisi yang ada. Ia menyebut bencana merupakan musibah yang berada di luar kendali manusia dan meminta semua pihak untuk bertawakal.
“Ini kehendak Allah SWT. Setiap musibah pasti ada hikmahnya, tidak perlu dipertikaikan,” tutupnya.
Editor : Firda Rachmawati

