Warga Bandung Waspada! Kasus DBD Meningkat Tajam, Belasan Pasien Meninggal Dunia

Kasus DBD di Kota Bandung melonjak tajam dan menyebabkan belasan pasien meninggal dunia. Ini Imbauan untuk warga:

Warga Bandung Waspada! Kasus DBD Meningkat Tajam, Belasan Pasien Meninggal Dunia
Warga Bandung diminta waspada dengan lonjakan kasus DBD yang telah membuat belasan pasien meninggal dunia.

INILAHKORAN, Bandung- Warga Bandung diminta waspada menyusul lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) periode Desember 2021 hingga Januari 2022.

Sub Koordinator pencegahan dan pengendalian penyakit menular Dinkes Kota Bandung, Ira Dewijani mengungkap fakta mengejutkan terkait lonjakan kasus DBD.

Menurutnya, total kasus DBD pada 2021 di Bandung mencapai 3.743 kasus dengan jumlah penderita meninggal dunia sebanyak 13 orang.

Baca Juga: Dunia Lebih Ringan dari 11 Sayap Nyamuk, Ustadz Hanan Attaki: Nggak Berharga!

Sedangkan pada November 2021, dituturkan dia, kasus DBD di Kota Bandung mencapai 695 kasus dengan penderita yang meninggal sebanyak dua orang.

Sementara, data Januari 2022 sendiri masih dalam tahap pendataan pihaknya.

"Kalau berdasarkan data yang didapat dari puskesmas dan rumah sakit, bulan-bulan terakhir ini terjadi kenaikan kasus DBD jika dibandingkan awal 2021. Kita memantau terus Desember dan Januari meningkat dibandingkan bulan sebelumnya," kata Ira pada Senin 24 Januari 2022.

Baca Juga: Varian Omicron dan Delta Ditemukan Bersamaan di Cimahi, Ngatiyana Tempuh Upaya Ini

Menurut Ira, terjadinya peningkatan kasus DBD berdasarkan perbandingan bulan-bulan sebelumnya dan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Peningkatan kasus sendiri, terjadi karena dua faktor yaitu terdapat virus dan nyamuk Aedes Aegypti.

"Biasanya musim hujan bisa memperkirakan kasus mulai naik karena musim hujan ada genangan," ucapnya.

Ira menuturkan nyamuk Aedes Aegypti senang berada di genangan air yang bersih di tempat penyimpanan air, pot bunga dan talang air.

Baca Juga: Di Tengah Ancaman Omicron, Enam Warga Cimahi Positif Terpapar Varian Delta

Selain itu peningkatan kasus dipengaruhi kecepatan puskesmas mendeteksi dini pasien DBD. Sebelum-sebelumnya, deteksi dini DBD hanya bisa dilakukan di rumah sakit.

"Satu sisi deteksi dini lebih cepat, kasus ketahuan lebih banyak. Jadi kasus banyak tapi fatality rate lebih kecil dibandingkan tahun lalu. Tingkat keparahan penderita bisa menurun dari tahun ke tahun," ujar dia.

Ira mengatakan, Kota Bandung yang berstatus endemis DBD membuat kasus akan tetap ada.

Baca Juga: Sinopsis Ikatan Cinta 24 Januari 2022: Pengacara Mama Rosa Sebut Jessica Saksi Kunci, Al Langsung Lakukan Ini

Namun upaya pengendalian dan pencegahan harus dilakukan agar tidak banyak warga yang terserang DBD melalui hidup sehat, 3M dan salah satu opsi lainnya fogging.

"Fogging salah satu pelengkap. Fogging dilakukan harus sesuai indikasi menemukan kasus dan jentik (perindukan)," jelasnya.

Lebih lanjut Ira menambahkan, yang lebih penting dilakukan yaitu melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M yakni menguras penampungan air, mengubur barang bekas, dan menutup tempat penampungan air.

Baca Juga: Cerita Pilu Pelajar Sukabumi, Tiap Hari Sekolah di Bawah Ancaman Buaya Sungai Cikaso

"Yang enggak bisa dikuras penampungan harus dikasih abate. Yang sakit diobati dan menjaga kebersihan lingkungan tanggung jawab semua," tandas dia. *** (Yogo Triastopo)


Editor : inilahkoran