Warga Resah Bau Limbah

WARGA di sekitar SPPG 1 Desa Bojonggebang, Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon, mengeluhkan dugaan pembuangan limbah secara sembarangan.

Warga Resah Bau Limbah
LIMBAH: Warga sekitar SPPG 1 Bojonggebang mengeluhkan dugaan pembuangan limbah yang menimbulkan bau menyengat, sementara pihak SPPG membantah limbah dibuang ke selokan maupun jalan.(INILAH/MAMAN SUHARMAN)

Oleh : Maman Suharman

Bagi warga yang berada di dekat SPPG 1 Desa Bojonggebang, persoalan limbah bukan sekadar masalah lingkungan. Bau menyengat yang dikeluhkan warga telah mengusik kenyamanan mereka di rumah sendiri.

Warga mengaku harus menghadapi kondisi tersebut berulang kali. Mereka menduga limbah dari aktivitas SPPG dibuang ke selokan hingga area jalan dan menyebut persoalan itu sudah berlangsung cukup lama.

Keluhan demi keluhan, menurut warga, telah disampaikan kepada pihak terkait.

Namun, hingga kini mereka merasa belum melihat penanganan yang memadai.

Bagi Ifan, salah seorang warga setempat, situasi ini bukan lagi persoalan yang bisa dianggap sepele.

Ia mengaku bau menyengat yang muncul telah mengganggu kenyamanan sehari-hari, sementara teguran yang beberapa kali disampaikannya belum mendapat respons seperti yang diharapkan.

“Kami sudah sangat terganggu.

Baunya menyengat dan ini bukan baru sekali.

Saya sudah beberapa kali menegur, tetapi seperti diabaikan.

Kami tinggal di sini, jadi setiap hari kami yang merasakan dampaknya,” kata Ifan, Selasa (27/10).

Keresahan Ifan semakin besar setelah ia mengaku sempat memeriksa fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di lokasi SPPG.

Berdasarkan pengamatannya, ia menduga fasilitas tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Dugaan itu memunculkan pertanyaan yang menurutnya perlu dijawab secara terbuka oleh pengelola. Jika fasilitas pengolahan limbah tersedia, warga ingin mengetahui mengapa bau menyengat dan dugaan pembuangan limbah masih menjadi keluhan.

“Setelah saya cek, IPALnya diduga tidak berfungsi.

Kalau IPAL berjalan dengan benar, pertanyaan kami sederhana, kenapa masih ada limbah dan bau yang dikeluhkan warga. Ini yang harus dijelaskan pengelola,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Lukman, warga lainnya.

Ia mengingatkan bahwa kegiatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat semestinya tetap memperhatikan lingkungan tempat kegiatan itu berlangsung.

Bagi Lukman, warga sekitar tidak seharusnya menanggung dampak lingkungan dari aktivitas yang mereka nilai belum dikelola dengan baik. Ia meminta pengelola membuktikan bahwa sistem pengolahan limbah benar-benar berjalan sesuai ketentuan.

“Jangan karena menjalankan program untuk masyarakat, lingkungan sekitar justru dibuat tidak nyaman.

Kami mencium baunya, kami melihat kondisinya dan kami yang tinggal di sini. Kalau memang pengelola merasa sudah benar, silakan buktikan pengelolaan limbahnya benar dan jangan sampai ada yang tercecer atau dibuang sembarangan,” kata Lukman.

Kekhawatiran warga, lanjut dia, bukan hanya menyangkut bau yang mengganggu.

Mereka juga mempertanyakan kemungkinan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan apabila persoalan tersebut terus dibiarkan tanpa pemeriksaan dan penanganan yang jelas.

“Kami tidak mau menunggu sampai ada warga yang sakit baru semuanya sibuk.

Persoalan limbah harus diselesaikan sekarang. Jangan sampai keluhan warga terus dianggap angin lalu,” tegasnya.

Bagi Ibu Nas, warga lainnya, rumah dan lingkungan sekitarnya seharusnya menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Namun, ia mengaku kenyamanan itu terganggu oleh persoalan bau limbah yang dikeluhkan warga.

Ia menyebut gangguan tersebut terasa semakin mengkhawatirkan pada malam hari. Menurutnya, terdapat dugaan aktivitas pembuangan limbah ke area sekitar jalan maupun bagian belakang lokasi SPPG.

Meski demikian, Ibu Nas menegaskan bahwa warga tidak bermaksud menghalangi operasional SPPG.

Yang mereka inginkan adalah kegiatan tersebut berjalan tanpa mengabaikan hak masyarakat sekitar untuk menikmati lingkungan yang bersih dan nyaman.

“Kami bukan melarang SPPG beroperasi. Silakan menjalankan kegiatannya, tetapi jangan mengorbankan warga sekitar. Kami juga punya hak mendapatkan lingkungan yang bersih dan tidak bau. Masa setiap hari kami harus menerima kondisi seperti ini,” katanya.

Ia berharap pengelola segera melakukan pembenahan dan memastikan seluruh limbah dialirkan ke sistem pengolahan yang semestinya.

“Kalau memang ada IPAL, gunakan dan pastikan berfungsi. Jangan ada lagi limbah yang dibuang sembarangan.

Kami sudah cukup terganggu dan ingin ada tindakan nyata, bukan sekadar penjelasan,” ujarnya.

Bagi warga, persoalan ini membutuhkan lebih dari sekadar saling membantah.

Mereka berharap ada pemeriksaan langsung, evaluasi terhadap sistem pengolahan limbah, serta langkah nyata untuk memastikan lingkungan tempat tinggal mereka kembali nyaman.

Pengelola SPPG membantah Sementara itu, Kepala SPPG 1 Desa Bojonggebang, Dedi Utomo, membantah tudingan bahwa limbah dari aktivitas SPPG dibuang ke selokan maupun jalan.

Dedi mengatakan limbah yang dihasilkan dari kegiatan SPPG telah diarahkan ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang tersedia di lokasi.

“Tidak benar kalau limbah kami dibuang ke selokan, apalagi ke jalan. Semua limbah kami buang dan kelola melalui IPAL,” kata Dedi.

Meski membantah tudingan tersebut, ia menyatakan akan melakukan pengecekan kembali menyusul adanya keluhan dari masyarakat.

“Kami akan cek ulang di lapangan. Kalau memang ada persoalan yang dikeluhkan warga, tentunya akan kami lihat dan evaluasi,” pungkasnya.

Pengecekan tersebut diharapkan dapat memperjelas kondisi pengelolaan limbah di lokasi SPPG sekaligus menjawab keresahan warga.

Sebab, di tengah berjalannya aktivitas pelayanan pemenuhan gizi, masyarakat sekitar juga berharap hak mereka atas lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman tetap terjaga. (bsf )


Editor : Inilahkoran