Waspada Karhutla

KEMARAU tak sekadar menghadirkan cuaca panas. Kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengancam Jawa Barat.

Waspada Karhutla
IRIGASI MENGERING: Petani berjalan di lahan sawah irigasi anak Sungai Cimulu yang mengering di Kampung Ciwasmandi, Kota Tasikmalaya. BMKG Jawa Barat memprediksi sekitar 90 persen wilayah di Jabar akan mengalami musim kemarau lebih kering pada Agustus.

Oleh: Yuliantono

Perlahan, langit Jawa Barat mulai berubah. Awan hujan semakin jarang datang, sementara terik matahari bertahan lebih lama setiap hari.

Di balik cuaca yang tampak cerah, ancaman lain mulai tumbuh. Tanah mengering, sumur-sumur perlahan kehilangan debitnya, dan warga di sejumlah daerah mulai menunggu kedatangan truk tangki air bersih. Musim kemarau baru memasuki babak awal, tetapi dampaknya sudah mulai terasa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan hampir seluruh wilayah Jawa Barat kini telah memasuki musim kemarau. Berdasarkan pembaruan musim kemarau dasarian I Juli 2026, sebanyak 98 persen Zona Musim (ZOM) di provinsi ini sudah berada dalam fase kering.

Pelaksana Tugas Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Edi Wibowo mengatakan kondisi tersebut menjadi penanda dimulainya periode yang membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi.

"Kami sampaikan, seluruh ZOM di Jawa Barat telah memasuki musim kemarau dan satu ZOM merupakan tipe satu musim," ujarnya, Senin (20/7). 

BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus hingga September mendatang. Bahkan, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibandingkan kondisi normal karena curah hujan diproyeksikan berada di bawah rata-rata klimatologis.

Kondisi itu diperkuat meningkatnya peluang terjadinya fenomena El Nino. BMKG mencatat peluang El Nino lemah mencapai 100 persen, El Nino moderat sebesar 98 persen, dan El Nino kuat sekitar 60 persen. Kombinasi tersebut diperkirakan membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang di sejumlah wilayah Jawa Barat.

"Agustus diperkirakan puncak kemaraunya," kata Edi.

Peringatan BMKG bukan sekadar proyeksi di atas kertas. Di sejumlah daerah, kemarau mulai meninggalkan jejaknya.

Karawang menjadi salah satu wilayah yang lebih dulu merasakan dampaknya. Air bersih yang biasanya mudah diperoleh kini harus didatangkan menggunakan truk tangki.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang mencatat sebanyak 2.585 kepala keluarga atau 7.704 jiwa di enam desa telah terdampak krisis air bersih.

"Sejak beberapa bulan terakhir hingga saat ini, kami terus menyalurkan bantuan air bersih ke daerah kekeringan," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Karawang Ferry Muharram.

Menurutnya, hingga Senin (20/7), BPBD telah mendistribusikan sedikitnya 152.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga.

Enam desa yang terdampak meliputi Desa Mulangsari di Kecamatan Pangkalan, Desa Kutalanggeng dan Desa Cintalanggeng di Kecamatan Tegalwaru, serta Desa Mulyasejati, Desa Kutanegara, dan Desa Parungmulya di Kecamatan Ciampel.

Jumlah itu terus bertambah. Tiga hari sebelumnya, BPBD baru mencatat 5.494 warga atau 1.836 kepala keluarga yang mengalami krisis air bersih di empat desa. Kini, jumlahnya meningkat menjadi 7.704 jiwa yang tersebar di enam desa.

Ferry mengatakan pemerintah daerah bersama instansi terkait terus menyalurkan bantuan air bersih agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak serta segera melaporkan kepada pemerintah desa maupun instansi terkait apabila mengalami kesulitan memperoleh air bersih sehingga bantuan dapat disalurkan lebih cepat.

Kemarau yang berkepanjangan memang tidak hanya membuat udara terasa lebih panas. Berkurangnya curah hujan dapat memicu krisis air bersih, mengganggu produksi pertanian, hingga meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat mulai menghemat penggunaan air sebagai langkah sederhana menjaga ketersediaan pasokan selama musim kemarau.

Pemerintah daerah juga didorong mempercepat berbagai langkah mitigasi, mulai dari memperkuat distribusi air bersih, mengoptimalkan kapasitas waduk, memperbaiki sistem irigasi, hingga memetakan kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan.

Di sektor pertanian, penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan menjadi salah satu upaya yang disarankan agar dampak kemarau dapat ditekan.

Musim kemarau mulai mengubah keseharian di sejumlah wilayah Cianjur. Di beberapa kampung, air yang biasanya mengalir dari sumur atau mata air kini semakin sulit ditemukan. Warga pun mulai menunggu kedatangan truk tangki yang membawa kebutuhan paling mendasar: air bersih.

Menghadapi kondisi tersebut, petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Perumdam Tirta Mukti, Palang Merah Indonesia (PMI), dan Polres Cianjur bersiaga untuk memastikan pasokan air tetap sampai ke tangan warga.

Sebanyak lima truk tangki disiapkan untuk melayani permintaan air bersih di 14 kecamatan yang mulai terdampak musim kemarau.

Kepala BPBD Cianjur Iwan Karyadi mengatakan, armada tersebut terdiri atas tiga truk tangki milik Perumdam Cianjur, satu unit milik PMI Cianjur, dan satu unit milik Polres Cianjur.

Truk-truk itu akan bergerak menuju wilayah terdampak guna meringankan beban warga yang selama ini harus menempuh perjalanan cukup jauh demi mendapatkan air bersih.

"Untuk wilayah yang dapat dijangkau truk tangki kita minta masyarakat menyiapkan bak penampungan guna memudahkan petugas dan relawan dalam menyuplai air bersih, sedangkan untuk wilayah yang sulit dijangkau akan dibantu pompa air dan sumur bor," kata Iwan, Senin (20/7/2026).

Menurutnya, BPBD telah berkoordinasi dengan Perumdam Cianjur, Polres Cianjur, dan PMI agar seluruh armada dapat langsung bergerak begitu menerima laporan dari masyarakat.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mengurangi dampak kekeringan sekaligus memastikan kebutuhan air bersih warga tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung.

Dukungan juga datang dari jajaran kepolisian. Kapolres Cianjur AKBP Alexander Yurikho Hadi mengatakan pihaknya telah menyiapkan satu unit mobil tangki yang siap diterjunkan ke wilayah terdampak.

"Kami siapkan satu unit mobil tangki untuk memasok air bersih ke wilayah terdampak kekeringan, pekan ini sudah siap mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak yang dapat dijangkau," ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih agar segera menghubungi layanan darurat kepolisian.

"Masyarakat yang membutuhkan pasokan air bersih dapat menghubungi call center 110," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Perumdam Tirta Mukti Cianjur Syamsul Hadi memastikan tiga armada tangki milik perusahaan daerah telah disiapkan untuk membantu distribusi air bersih.

"Kami segera distribusikan air bersih dengan tiga tangki yang kami punya ke wilayah terdampak kekeringan, sampai hari ini sudah ada beberapa permintaan dari wilayah yang masih dapat dijangkau truk tangki," ujarnya. (gin) 


Editor : Inilahkoran