Wisata Berbasis Alam dan Day Tripper Lebih Menonjol di Libur Nataru 2026

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan mengungkapkan, wisata berbasis alam nyatanya tetap paling diminati oleh wisatawan selama berlibur di momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 kemarin.

Wisata Berbasis Alam dan Day Tripper Lebih Menonjol di Libur Nataru 2026
istimewa

INILAHKORAN.ID - Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan mengungkapkan, wisata berbasis alam nyatanya tetap paling diminati oleh wisatawan selama berlibur di momen natal dan tahun baru (Nataru) 2026 kemarin.

Kemudian lanjut Iendra, baru disusul oleh wisata kuliner, yang mana banyak makanan khas Jawa Barat diminati oleh wisatawan, khususnya lokal.

"Banyak dikunjungi bersifat alam. Pantai dan pegunungan. Makanan atau kuliner juga," kata Iendra saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Selasa 6 Januari 2026.

Disinggung mengenai adanya keluhan dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Barat, terkait rendahnya tingkat keterhunian hotel selama Nataru 2026. Di mana okupansi hanya mencapai 60 persen, turun signifikan 30 persen dalam periode yang sama pada 2024 lalu, Iendra menduga ada pergeseran tren wisatawan dalam berpergian.

Kini kecenderungannya adalah wisata sehari atau Day Tripper dan wisata jarak dekat (short getaway), sehingga dinilainya memengaruhi bisnis hotel dan restoran.

Belum lagi dukungan akses transportasi yang lengkap di Jabar, juga disinyalir membuat wisatawan cenderung cepat berpindah ke lokasi wisata lainnya.

"Penurunan okupansi hotel disebabkan beberapa hal, yaitu tersedianya insfrastruktur atau akses. Jalan, kereta api dan udara. Khususnya Whoosh yang mempercepat perjalanan. Sehingga wisatawan lanjut ke wilayah lain," tuturnya.

Terkait berapa banyak kunjungan wisata dalam Nataru 2026 ini, Iendra mengaku bahwa Disparbud Jabar tengah melakukan pengumpulan dan analisis data.

Terpenting kata dia, dari kunjungan wisata pada momen Nataru 2026 ini, turut mendongkrak perekonomian masyarakat di Jawa Barat.

"Dampak ekonominya dari wisata tentunya besar, baik di level UMKM sampai industri besar," tandasnya.***


Editor : JakaPermana