Yamal Takkan Lupa Jalanan Rocafonda

LAMINE Yamal telah mencetak sejarah dengan sukses meraih trofi Piala Dunia. Kebahagiaan pun menyinari jalanan Rocafonda.

Yamal Takkan Lupa Jalanan Rocafonda
LAMINE Yamal telah mencetak sejarah dengan sukses meraih trofi Piala Dunia.

LAMINE Yamal telah mencetak sejarah dengan sukses meraih trofi Piala Dunia. Kebahagiaan pun menyinari jalanan Rocafonda, tempat dimana dia menjalani kerasnya hidup di masa kecil.

Yamal tampil impresif meski tak mencetak gol saat Spanyol menang 1-0 atas Argentina di laga final, Senin (20/7) dini hari WIB. Wonderkid Barcelona itu pun masuk buku sejarah sebagai remaja pertama yang merengkuh dua trofi bergengsi sekaligus: Piala Eropa dan Piala Dunia.

"Ia telah menuntaskan pencapaian tertinggi dalam sepak bola internasional pada usia yang baru 19 tahun," tulis Squawka.

Yamal berhasil meraih gelar Euro atau Piala Eropa tahun 2024. La Furia Roja, julukan Spanyol, keluar sebagai pemenang setelah mengalahkan Inggris 2-1.

Dia meraih gelar juara Euro 2024 saat usianya baru 17 tahun. Gelar itu kian paripurna karena sang wonderkid dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik.

Sedangkan di Piala Dunia 2026, kontribusi Yamal tidak secemerlang saat Euro 2024. Yamal hanya mencetak satu gol sepanjang gelaran Piala Dunia 2026.

Peran Yamal tak begitu maksimal karena persoalan cedera yang membuatnya tidak tampil penuh sepanjang fase grup.

Baru memasuki fase gugur, Yamal terus diandalkan pelatih Luis de la Fuente di sisi kanan hingga akhirnya Spanyol berhasil meraih gelar Piala Dunia kedua.

Kegembiraan pun memenuhi rumah masa kecil Lamine Yamal. Dia belajar bermain sepak bola di jalanan Rocafonda, sebuah lingkungan kelas pekerja yang multietnis di kota pesisir Mataro, yang terletak sekitar 30 km di utara Barcelona .

Warga Rocafonda, termasuk nenek Yamal dan seorang sepupu, selalu menganggap bintang yang bermain untuk tim nasional Spanyol dan Barcelona itu sebagai bagian dari keluarga mereka.

Di lapangan sepak bola komunitas – tempat Yamal mengasah keterampilannya sejak usia muda – kini terdapat mural yang menggambarkan dirinya sebagai simbol hal-hal yang tampak mustahil tetapi sepenuhnya mungkin terjadi.

Yamal, yang lahir di Spanyol dari ayah Maroko dan ibu dari Guinea Ekuatorial, tidak pernah melupakan akar budayanya.

Sepanjang Piala Dunia, Yamal juga mengenakan ikat kepala bertuliskan "Rocafonda", menampilkan bendera kedua negara asal orang tuanya di sepatunya, dan berulang kali menyatakan bahwa sepak bola adalah bukti nyata integrasi rasial dan sosial. (bsf)


Editor : Inilahkoran