Yordania Menuduh Presiden FIFA Gianni Infantino Telah Melakukan Pemerasan

Kini pihak Asosiasi sepak bola Yordania menuduh Presiden FIFA Gianni Infantino telah melakukan pemerasan.

Yordania Menuduh Presiden FIFA Gianni Infantino Telah Melakukan Pemerasan
Presiden Asosiasi Sepak Bola Yordania, Ali bin Hussein dan Presiden FIFA, Gianni Infantino.

INILAHKORAN, Bandung - Kontroversi yang menyelimuti Presiden FIFA Gianni Infantino nampaknya terus berlanjut.

Kini Presiden Asosiasi sepak bola Yordania, Ali bin Hussein, melancarkan serangan publik terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Ali bi Hussein menuduh Gianni Infantino melakukan "pemerasan" dan mengklaim FIFA menawarkan bantuan untuk menyelesaikan masalah kerajaan sebagai imbalan atas dukungannya.

Ali Bin Hussein menuduh bahwa FIFA secara lisan menyampaikan selama Piala Dunia bahwa mendukung Gianni Infantino "akan sangat membantu FA kami" setelah berbulan-bulan badan pengatur sepak bola dunia itu menolak memberikan bantuan dalam berbagai hal.

"Kami bangga di Yordania karena menjunjung tinggi nilai-nilai etika. Kami tidak mendukungnya sebelumnya dan tentu saja tidak akan mendukungnya sekarang," tulis Ali Bin Hussein di X.

"Namun seluruh situasi ini sama saja dengan pemerasan dan kami menolak untuk menyerah pada hal itu," tambahnya.

Kecaman itu muncul ketika Gianni Infantino menghadapi penentangan yang semakin besar di dalam hierarki sepak bola setelah Presiden FIFA itu terpaksa membatalkan proposal kontroversial untuk menjual sebagian saham di Piala Dunia.

Konfederasi sepak bola dan asosiasi nasional menolak gagasan tersebut setelah tenggat waktu ketat tanggal 19 September yang ditetapkan oleh pejabat Swiss.

FIFA berpendapat bahwa penjualan saham minoritas dalam operasi komersialnya akan menghasilkan miliaran dolar untuk mendanai pengembangan olahraga global.

Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom dan Arsene Wenger termasuk di antara para eksekutif yang menjauhkan diri dari Gianni Infantino, dengan Ali Bin Hussein mengatakan ada masalah dengan kepemimpinan.

Ketua Asosiasi sepak bola Yordania menguraikan sejumlah keluhan yang dihadapi asosiasinya sebagai negara kecil dengan "anggaran minimal."

Hal ini termasuk para penggemar yang membayar "harga tiket yang sangat mahal" sementara tetap ditolak visanya untuk Piala Dunia di Amerika Serikat dan uang hadiah yang belum dibayarkan kepada para pemain yang berpartisipasi dalam Piala Arab 2025, sebuah turnamen yang diselenggarakan oleh FIFA.

Menambah kesengsaraan Yordania, Ali Bin Hussein mengeluh tentang pajak yang dikenakan oleh pemerintah AS melalui FIFA untuk partisipasi Piala Dunia, biaya yang tidak ditanggung oleh tim yang berbasis di Kanada dan Meksiko.

"Kami dikenai pajak oleh pemerintah AS melalui FIFA atas partisipasi kami. Uang itu seharusnya diberikan kepada para pemain dan staf," jelasnya.

"Hal ini tidak terjadi pada mereka yang bermain dan mendirikan kemah di Kanada dan Meksiko. Tetapi kami kebetulan berada di AS, jadi sekarang kami menghadapi biaya pajak yang sangat besar karena telah berpartisipasi," lanjutnya.

Yordania lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya tetapi tersingkir di babak penyisihan grup.

Asosiasi tersebut juga telah menunggu sejak Desember untuk mendapatkan uang hadiah karena mencapai final Piala Arab di Qatar.

"Uang yang seharusnya diterima tim kami karena telah mencapai final belum juga dibayarkan, sementara pada saat yang sama FIFA membual tentang berapa miliar yang mereka miliki sebagai cadangan," ujar Ali Bin Hussein.***


Editor : Irma Nurfajri