Pertanyakan Kelayakan, Kepala Liga Eropa Sebut Gianni Infantino Tak Punya Masa Depan
Kepala Lisa Eropa menyebut bahwa Presiden Gianni Infantino sudah tidak memiliki masa depan lagi di FIFA.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Gianni Infantino nampaknya harus menghadapai tantangan besar dalam pemilu pemilihan Presiden FIFA 2027 mendatang.
Presiden Liga Eropa Claudius Schaefer mengatakan Gianni Infantino tidak akan memiliki masa depan di FIFA.
Dia mengungkapkan hal tersebut seraya menekankan pentingnya mereformasi badan pengatur sepak bola dunia dan tanggung jawab presidennya.
Dalam sebuah wawancara dengan Athletic, Claudius Schaefer mengatakan bahwa European Leagues, yang mewakili 53 liga sepak bola profesional pria dan wanita, sangat prihatin dengan kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA.
"Kami mempertanyakan kelayakannya untuk terus menjabat sebagai Presiden. Di Swiss, kami telah mengamati FIFA dengan cermat dan tampaknya pengaruh Presiden telah meningkat dari tahun ke tahun," tuturnya.
"Keputusan-keputusan besar diambil tanpa konsultasi yang berarti dengan para pemangku kepentingan yang akan terpengaruh," ujarnya.
Komentar Claudius Schaefer muncul di tengah konflik sengit antar badan pengatur, yang dipicu oleh proposal FIFA yang kini telah dibatalkan untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia.
Gianni Infantino berada di bawah tekanan dari tiga konfederasi untuk mengundurkan diri, termasuk UEFA dari Eropa, AFC dari Asia, dan CONCACAF, yang mewakili Amerika Utara dan Tengah serta Karibia.
Badan pengatur olahraga regional juga telah membahas kemungkinan mosi tidak percaya terhadap kepala FIFA.
Kekhawatiran telah muncul terkait penghargaan perdamaian FIFA perdana yang diberikan kepada Presiden AS Donald Trump pada bulan Desember dan pembatalan larangan bermain untuk penyerang Amerika Folarin Balogun selama Piala Dunia tahun ini setelah panggilan telepon dari Trump.
"FIFA adalah sebuah asosiasi di bawah hukum Swiss dan dalam asosiasi ini terdapat aturan-aturan. Presiden dan anggota dewan harus menjalankan tugas mereka dengan cermat. Ini adalah masalah hukum," jelas Schaefer.
"Jika Anda mengambil keputusan seperti itu (seperti hadiah perdamaian), tanpa memberitahukan kepada dewan, menurut saya itu adalah pelanggaran hukum. Dan kemudian, selama Piala Dunia kita semua tahu tentang masalah kartu merah," terangnya.
"Ini benar-benar skandal. Saya tidak pernah ingat adanya intervensi politik semacam ini terkait dengan masalah olahraga," lanjutnya.
Dia menambahkan, "tindakan seperti itu mempertanyakan integritas permainan. Itulah mengapa tidak ada masa depan bagi Infantino di FIFA. Tidak mungkin."
Gianni Infantino akan mencalonkan diri kembali untuk masa jabatan keempatnya tahun depan dan kemungkinan akan menghadapi oposisi yang kuat, tetapi Schaefer mengatakan bahwa mendefinisikan kembali peran Presiden FIFA lebih penting daripada menempatkan orang lain di kursi tersebut.
"Bagi kami, mewujudkan reformasi ini adalah tugas terpenting dan itu hanya bisa terjadi dengan Presiden lain," tambahnya.***
Editor : Irma Nurfajri

