Yuk Kenali Gedung Radio Cililin Bangunan Sejarah Peninggalan Belanda
Di Cililin KBB terdapat gedung tua Belanda yang dikenal orang sebagai Gedung Radio Cililin dan hingga kini keasliannya masih terjaga
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Kecamatan Cililin sebagai salah satu bagian dari wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) ternyata menyimpan sejarah panjang, banyak gedung tua Belanda. Buktinya ada Gedung Radio Cililin era pemerintahan Belanda.
Gedung Radio Cililin merupakan gedung tua peninggalan Belanda yang dibangun sekitar awal abad ke-20 yang berada di cililin KBB.
Berdiri kokoh disudut Jalan Radio Cililin, Desa Cililin, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), gedung tua Belanda atau Gedung Radio Cililin memiliki panjang 20 meter, lebar 12 meter dan tinggi 10 meter tersebut ditopang oleh delapan tiang.
Baca Juga: Kolaborasi Unik Alumni SMA Negeri 5 Bandung dalam Aksi Jembatan Gantung Cililin KBB
Menariknya, rangka atap Gedung Radio Cililin masih memakai kayu jati yang sudah berusia lebih dari 1 abad.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Sistem Informasi Cagar Budaya (Sigaraya) KBB, bangunan tersebut dibangun pada tahun 1908 oleh insinyur berkebangsaan Jerman bernama Ir. Raymond Sircke Hessilken atas permintaan dari Pemerintah Kerajaan Belanda.
Pembangunan Gedung Radio Cililin tersebut diawali dengan pembebasan lahan seluas 17 hektare yang dilakukan pada tahun 1908-1916.
Baca Juga: Habiskan Rp25 Miliar, Rencana Penataan Alun-alun Cililin Bakal Dongkrak Wisatawan?
Ir. Raymond yang kala itu sukses membangun Gedung Radio Cililin bagi Hindia Belanda saat itu lantas membuatnya terkenal, bahkan hingga ke lapisan masyarakat.
Kendati nama Ir. Raymond yang sulit dilafalkan oleh orang Sunda, maka masyarakat sekitar khususnya Cililin menyebutnya sebagai tuan Barenyon.
Selanjutnya, Gedung Radio tersebut menjadi alat komunikasi bernama Gedung Telepoonken.
Gedung Radio Cililin ini memiliki luas sekitar 18 x 12 meter dengan tinggi bangunan sekitar 9 meter.
Baca Juga: Alhamdulillah, TKW Asal Cililin Dinyatakan Sembuh dan Negatif Covid-19
Dalam masa pembangunannya Ir. Raymond berhasil mendirikan 5 buah bangunan, tiga dari bangunan itu kini menjadi bagian dari SMA Negeri 1 Cililin.
Sementara, dua bangunan lainnya berupa kantor radio dan gudang pembangkit listrik yang dibangun secara terpisah keadaannya sudah tak terawat dan sangat memperihatinkan.
Kemudian, bangunan tersebut dijadikan sebagai Gedung Telepoonken untuk kepentingan Pemerintah Kerajaan Belanda di wilayah tanah jajahannya.
Adapun jangkauan sinyal dari radio tersebut diklaim bisa menjangkau hingga ke Benua Eropa.
Baca Juga: TKW Asal Cililin Positif Covid-19 Varian Omicron, Ini Penjelasan Dinkes KBB
Namun demikian pada tahun 1924, Telepoonken beralihfungsi menjadi pemancar radio tanah jajahan atau Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM).
Hal tersebut terjadi lantaran pengaruh Perang Dunia I yang tengah bergejolak di Benua Eropa.
“Negara-negara di Eropa ketika itu berlomba-lomba membuat persenjataan, sedangkan Kerajaan Belanda di samping membuat persenjataan membuat juga peralatan komunikasi yang salah satu hasil buatannya difungsikan dan ditempatkan di Cililin,” tulisnya.
Jajang Wahyudin (46) warga sekitar menyebutkan, setelah ditinggalkan Belanda bangunan tersebut sempat beberapa kali beralih fungsi. Bahkan sempat disewa untuk dijadikan pabrik pembuatan tahu.
Baca Juga: Waduh! Wajit Cililin Terancam Tak Diminati Konsumen Jika Hal Ini Tetap Dilakukan
“Disebut Gedung Tahu itu karena dulunya dipakai bikin tahun di sini. Kejadiannya sudah lama,” ujarnya.
Sementara itu, warga lainnya Oman Suryadi (50) meminta agar pemerintah bisa lebih memperhatikan bangunan cagar budaya khususnya Gedung Radio Cililin.
Menurutnya, Gedung Radio Cililin yang telah berdiri kokoh selama ratusan tahun ini memiliki nilai historis tinggi sehingga harus dilestarikan.
“Mestinya tempat wisata seperti Gedung Radio Cililin ini bisa lebih diperhatikan agar bisa dijadikan destinasi wisata sejarah yang bisa terus dijaga dan dilestarikan," tandasnya. *** (agus satia negara).
Editor : inilahkoran


